Coffee and Contemplation - 2

  Sejak 2012, gue berulang kali mau nabung dollar. Tapi gue urungkan. Bukan karena ngga yakin dollar bakal naik. Justru karena gue yakin dollar pasti naik terhadap nilai tukar rupiah. Dan gue kepikir, kalau dollar naik, pasti berdampak pada ekonomi negara. Ekonomi orang-orang di sekitar gue. Bukan karena mereka pake dollar. Tapi karena pada skala makro, pertukaran komoditi masih menggunakan dollar. Dan mau ngga mau, melihat harga dollar yang tinggi, komoditas dalam negri pasti melirik pasar luar. Namanya juga bisnis, maunya untung. Didasari pemikiran kalau nabung dollar berasa ngga nasionalis, dan berbahagia di atas kesulitan sodara sebangsa dan setanah air, maka gue memilih invest di saham-saham plat merah. Tujuannya selain untuk investasi juga berkontribusi terhadap usaha milik bangsa. Namun lagi lagi. Ngga di mana-mana, cinta gue selalu bertepuk sebelah tangan. Relationship, karir, berwarganegara, pada akhirnya, pemikiran dan tindakan gue yang dilandaskan perhatian, kasih sayang...

Mika Japanese Bistro

Mama San

P & B

Mika's Homemade Basil Pesto

Kimchi Pasta

Banoffe pie
Suatu hari di Kota Kasablanka, gue kepengen makan pasta. Setelah nyoba pasta di Market Bar, kali ini mau nyari restoran lain lagi. Tapi sebenernya yang bikin gue belok ke Mika Japanese Bistro adalah Banoffe Pie-nya. Karena pertama kali nyoba Banoffe pie di Mama Goose, enaknya kebangetan, gue merasa yang ini juga kudu dicobain. Pas liat menu Mika, kebetulan banget, Japanese Bistro ini punya varian menu pasta yang lumayan.
Butuh beberapa menit sebelum memutuskan pasta mana yang wajib dicoba. Sementara partner makan memilih Mika's Homemade Basil Pesto, gue memilih Kimchi Pasta. Basil Pesto-nya disajikan bersama fettucine, rasa gurih dan potongan ayam di pasta ini bakalan bikin nagih. So far, best pesto yang pernah gue rasain daripada beberapa restoran lainnya. Apa mungkin karena menggunakan Fettucine alih-alih spaghetti?
Ngelirik ke Kimchi Pasta punya sendiri, rasanya nggak semenggiurkan Basil Pesto. Tapi marilah kita coba. Dari warnanya yang kemerahan sih, meyakinkan pasta ini bakal sama rasanya seperti kimchi asli, pedes dengan sensasi asam. Yang didapat tidak demikian. rasanya jauh dari kimchi, kurang pedas dan kurang asam. Tapi pasta asam pastinya akan aneh banget nggak? Pun sedikit-sedikit kimchi-nya masih terasa di lidah pas ngemut si sawi putih.
Koleksi mocktail di mason jar-nya biasa aja. Jadi gue langsung memesan Banoffe Pie sambil mengeset rasa Banoffe Pie punya Mama Goose sebagai benchmark. Hmm, Mika's Banoffe Pie menang secara ukuran yang lebih besar. Taburan kopi di atas creamnya pun lumayan. Menggali lebih ke bawah, irisan pisang-nya terlalu kematangan jadi manis banget. Di bawah pisang masih ada lapisan cokelat yang lumayan tebal dan enak. Sayangnya, kulit pai di sini nggak pas dengan lidah gue. Ada rasa kasar seperti makan gula pasir waktu ngemut kulit pai. Akhirnya si Banoffe Pie dioperasi dan meninggalkan lapisan kulit tersisa di piring.
Sambil mengistirahatkan perut, gue keliling melihat interior Mika. Paduan dinding putih dengan furnitur hitam jadi signature di sini. Ada spot perapian dengan lemari buku yang berisikan buku-buku a la abad pertengahan dan banyak bason jar. Di tengah ruang, dipisahkan dengan rak penuh beragam aksesoris. Di sisi yang menempel dengan open kitchen juga ada rak putih dan foto-foto a la mini instax yang tergantung di benang tambang. Lokasi yang pas buat bikin pemotretan. Ada yang berminat?