SCREAM

"Kenapa tidak berteriak?"   Pertanyaan yang selalu muncul ke permukaan dalam diskursus kekerasan seksual. Ada tuntutan tersirat tentang konsep the perfect victim,  bahwa korban yang "sah" haruslah sesosok manusia suci tanpa cela yang melawan sekuat tenaga. Jika kamu membeku karena shock dan tidak berteriak, maka di mata mereka, kamu bukan korban. "Kenapa mau ikut pergi sama terlapor?"   Pertanyaan berikutnya. Mengesankan bahwa jika korban setuju untuk bertemu atau bepergian, maka ia juga otomatis menyetujui tindakan kekerasan seksual yang terjadi. Logika usang ini menganggap kekerasan seksual tidak akan terjadi jika korban bisa menjaga diri dengan baik: tidak dekat dengan pelaku, tidak tinggal bersama pelaku, dan selalu waspada. Lagi-lagi, tuntutan menjadi a perfect victim . "Kalau sudah tahu dia begitu, kenapa tidak ditinggalkan? Kenapa masih mau berhubungan?" Bahkan aparat penegak hukum pun sering kali sulit menerima kenyataan ini. Mereka gagal...

lluvia #20

12.10.2011
'Tunggu sebentar,' si pemuda tidak percaya dengan telinganya. Benarkah apa yang dikatakan gadis di depannya ini?
'Kamu ingin saya ada di sisimu agar lelaki itu bisa tenang bersamamu?' ucapnya berusaha mengerti.

A week ago
'You know, sometimes I think if you have a boyfriend, we can make a good affair. I mean, i'm not the only one who is cheated.' gadis itu selalu ragu. Kapan lelakinya bergurau, kapan ia serius
'I'm gonna find someone to be my boyfriend, then. So we can make an affair.'
'Hahaha, yes! Yes!'
'I'm confused, you said, ‘we can make an affair’. Didn’t we already started?' tanya si gadis.
Lelaki itu tersenyum, 'What affair? Saya dan kamu hanya bertukar kata, sesekali makan bersama, atau kebetulan satu arah. Saya mengantarmu pulang, kamu mendengarkan cerita saya. Cuma itu kan?'
'Benarkah? How about parts when I hugged you, and once or twice you hold my hand?' kening si gadis berkerut, oh sungguh membingungkan.
'Ataukah, saya hanya satu dari banyak lengan yang terbiasa memelukmu?'
'That is something I'm not gonna tell.' senyum jenaka muncul di bibir lelaki itu. Senyum yang memerangkap hati si gadis.

2013
'Tuan,' gadis itu menulis, 'Berbilang pemuda menawarkan hatinya untuk saya. Namun saya tidak bisa memberikan hati yang tetap menggenggammu erat. Hati saya memilih sendiri siapa yang hendak ia kenang, saya berusaha sekuat tenaga, dan tetap kalah'. Lantas ia melipat secarik kertas itu dan menyimpannya ke dalam toples. Bersama carikan kertas lainnya. Hujan menyisakan setapak basah.