Coffee and Contemplation - 1

  It was a pleasant evening, and I always order a Japanese iced filter whenever I spend time at this particular slow bar in Jakarta. As I sipped my 50k-something coffee, my mind began to contemplate the passage of time. Ten years ago, I only paid 18k for the same menu item, the same beans. I understand how inflation works, and I know that coffee crops depend heavily on nature to thrive. Yet, as I sat there, I realized how drastically prices have skyrocketed over the last decade—not just for coffee, but for everything. Even though my salary has increased fourfold in that time, I still feel as though my buying power has weakened. It wasn't just the price of the beans that bothered me; it was the realization that the cost of living is quietly eroding everything I’ve worked for. I won't go into the weeds of government mismanagement, but it reminded me of a scene in The Trial of the Chicago 7 , where Joseph Gordon-Levitt’s character asks Sacha Baron Cohen’s about his contempt for hi...

lluvia #18

'Lewat tengah malam. Syaraf-syaraf di otak saya menolak beristirahat. Padahal saya sudah terbangun sejak jam 3 pagi kemarin. Iya, saya memang minum kopi moka sore ini, sesuatu yang saya tau pantang dilakukan kalau mau tidur nyenyak. Namun tidur saya tidak pernah lagi nyenyak. Ada sesuatu yang tidak bisa dimatikan dalam otak saya. Pertanyaan kenapa manusia bisa berubah?

'Dua hari ini hujan. Entah kenapa selalu hujan tiap kali lelaki itu menuliskan kata yang menyakiti saya. Sejak dua tahun lalu, hujan selalu turun. Lelaki itu terus menyakiti. Orang dengan tingkat self esteem rendah seperti saya, pastinya mengerut dan berkata: mungkin salah saya, mungkin saya membuatnya terpojok hingga ia menyakiti saya. Orang dengan kecenderungan bipolar seperti saya pastinya punya perang yang tak pernah berakhir, seperti bagian otak yang berteriak-teriak mencari keadilan.

'Tapi dunia adalah tempat yang tidak adil. Apalagi bagi perempuan, terutama bagi saya. Tidak cukup saya menyalahkan diri sendiri karena mencintainya, orang lain pun meneriakkan kalau itu kesalahan saya. Atau, saya berpikir saya bersalah karena orang lain menilai saya bersalah? Looking glass self. Dan lelaki itu, terbebas dari beban kesalahan. Karena opini publik yang beranggapan adalah wajar lelaki mempermainkan perempuan. Perempuannya aja yang bodoh karena mau dipermainkan.

'Well, I was in love. I am in love. Jika lelaki itu meminta saya menelan empedu, saya akan melakukannya. Selama ia bersedia tetap di sisi saya. Hahaha, ironis. Bahkan saat ini saya bisa mendengarnya berkata jika ia tidak mempermainkan saya, jika ia tidak memanfaatkan saya, jika ia tidak berbuat jahat, jika ia tidak berbuat salah. Apakah selama ini saya berhalusinasi? It takes two to tango. Mungkin saya memang membodohi diri saya.'

Gadis itu mengangkat wajah dari selembar tissue yang ia tulisi dengan sebatang pensil. Aku berusaha menemukan guratan airmata. Namun airmatanya sudah mengering. Malam-malam ketika satu kata dari si lelaki dapat membuatnya menangis telah menghabiskan airmatanya. Oh, aku tau ia masih menangis, tapi kali ini lebih menyedihkan. Karena ia menyembunyikan airmata itu di balik senyuman dan ucapan sinis.

Bagaimana manusia bisa berubah? Rasanya gadis itu tau jawabannya: karena rasa sakit yang teramat sangat.