Borrowed Sorrow

  Growing up, I spent most of my time alone. I spent it reading, playing pretend, writing short stories, dancing, and exploring. Of course, I had a crew: a bunch of busybody teenagers exploring the infinite possibilities of our hometown. When puberty hit, I fell in love with the idea of falling in love, but not the actual relationship part. I mostly read about romance in teen magazines and already felt exhausted by the obligations society threw at girls. Back in my day, being sad was a trend. I was there when the first emo punk bands debuted on MTV. I was there when Avril swapped her skateboard for a tutu. But personally, I was happy. So, I borrowed sorrow from pop culture instead. I picked up my brother’s beat-up guitar and learned to play the most heart-numbing songs. I was an emo girl. The quiet kind you could only discover by reading my notes or scrolling through my playlist. I am a middle-aged woman now. What was once a borrowed sorrow has become the story of my life. Those c...

lluvia #17

Dia datang di hari hujan. Duduk di tepi jendela dan memainkan sebatang rokok diantara jemarinya. Tanpa dinyalakan. Wajahnya kosong, tidak ada kecewa, marah, sedih atau gundah. Hanya lelah. Aku lantas menduduki kursi di depannya.
'Apakah sudah berakhir?' tanyaku.
Ia belum lagi melihat ke arahku saat angin kencang menampar kaca di hadapannya. Bibirnya menggoreskan senyum samar. Tidak tau apa yang hendak ia ucapkan. Hanya lelah.
'Saya lelah. Rasanya seperti mengejar bayang-bayang. Jika saya berhenti sekarang, apakah ia akan merasa lega?
'Saya punya cerita ini, cerita lama yang selalu terkenang saat hujan. Cerita tentang seorang lelaki yang datang dan membagi kesenangan. Yang lalu menghancurkan hati dan hidup saya. Yang merenggut keluguan saya. Yang lantas merasa semua hanya bagian dari permainan. Pengisi waktu luang.
'Cinta saya, hati saya, perhatian saya, segalanya, seakan tak pernah berarti untuknya. Mungkin memang benar tidak berarti. Kalau begitu kenapa ia menanggapi?'
Gemuruh guntur sambar-menyambar. Aku mendengarnya meratapi nasib. Kisah sama, tentang lelaki yang sama. Yang ia pikir ia cintai. Yang ia pikir balas mempedulikannya. Kalau tidak peduli, pastilah semua ucapan si lelaki palsu belaka.
'Setengah tahun berlalu. Kami berjauhan, pun kata-katanya masih menyakiti saya. Seperti kura-kura kebingungan. Di dekatnya dan terbakar, atau menjauh dan tersiksa rindu.' ia berkata lagi.
Aku tidak pernah memahami hatinya. Jika terluka, kenapa masih merasa cinta? Jika menderita, kenapa tidak mencoba mencari bahagia? Lelaki itu mungkin memang sekedar mengisi waktu luangnya. Aku tidak mau menebak, berulang kali bertanya kenapa.
'Mungkin memang ini jalannya. Mungkin ia pun tidak tau akan berujung seperti ini. Mungkin saya hanyalah, ah tidak, saya bukan siapa-siapa. Tidak pernah menjadi siapa-siapa.
'Luka saya, airmata saya, tidak pernah ada dalam cerita hidupnya.'
Ia membuang rokok yang sedari tadi hanya berputar di jemarinya. Menginjaknya kuat-kuat hingga tandas.
'Katakan pada saya, bagaimana ada lelaki macam itu?'
Ku pikir aku mendengarnya, namun suara tersebut keluar dari otakku. Aku yang sedang melukai diri dengan dalih cinta.

Hujan belum lagi berhenti.