Coffee and Contemplation - 1

  It was a pleasant evening, and I always order a Japanese iced filter whenever I spend time at this particular slow bar in Jakarta. As I sipped my 50k-something coffee, my mind began to contemplate the passage of time. Ten years ago, I only paid 18k for the same menu item, the same beans. I understand how inflation works, and I know that coffee crops depend heavily on nature to thrive. Yet, as I sat there, I realized how drastically prices have skyrocketed over the last decade—not just for coffee, but for everything. Even though my salary has increased fourfold in that time, I still feel as though my buying power has weakened. It wasn't just the price of the beans that bothered me; it was the realization that the cost of living is quietly eroding everything I’ve worked for. I won't go into the weeds of government mismanagement, but it reminded me of a scene in The Trial of the Chicago 7 , where Joseph Gordon-Levitt’s character asks Sacha Baron Cohen’s about his contempt for hi...

JRL 2013 - Side Story

Rute paling enak dari rumah gue ke Ancol itu emang naik TransJakarta. Cuma sekali naik, nggak usah transit-transit. Sampe shelter Ancol, masuk pake kartu pers, naik Wara Wiri menuju spot yang dimaksud. Beres. Tapi kemaren terjadi perubahan rencana. Pertama karena harus transaksi tiket JRL buat biaya makan dan taxi pulangnya. Lalu ada penggratisan tiket TransJakarta. Dan miss leading info kalau masuk Ancol gratis. Berikut kronologinya.

Jam 1 baru berangkat menuju TKP transaksi tiket. Selesai bersua melepas rindu dan bertukar gosip, bersiap naik TraJa dari shelter Tegalan. Belum juga ngerasain naik TraJa gratis, udah ditolak masuk halte sama si mbak berbaju kebaya Betawi 'haltenya penuh, mbak. tunggu di sini aja kalau mau naik bis', ujarnya dengan senyuman. Harusnya sih yah gue nunggu aja. Tapi gue pengen liat GBS. Lantas gue memilih naik M01 tujuan Senen.

Sampe di Senen, harusnya gue naik TraJa lagi biar praktis, alih-alih gue malah nyambung naik mikrolet 12 jurusan Kota. Niatnya cari halte TraJa yang nggak terlalu membludak. Lewat beberapa halte penuh semua. Gue memutuskan turun di Gunung Sahari. Bad decision. Dari situ halte terdekat ada di Jembatan Merah dan gue terpaksa jalan kaki ke sana. Bisa sih naik bis, tapi akal sehat gue lagi liburan sepertinya.

Naik dari shelter Jembatan Merah bareng anak-anak alay dan ibu-ibu gendong anak yang penuh semerawut dan bau matahari. Di sinilah gue denger celoteh 'masuk Ancol gratis' OMG! Begitu sampe pintu masuk Ancol kumpulan anak alay dan ibu-ibu gendong anak meringsek hingga ke luar. Semua protes 'katanya gratis!' Petugas sampe capek menjelaskan kalau gratisnya tanggal 21 Juni 2013. Tuh makanya kalau baca berita jangan separo-separo. Jangan cuma baca headline: Ulang Tahun Jakarta, Gratis Masuk Ancol.

Agak miris sih ngeliat anak alay dan ibu beranak segitu kecewanya. Gue jadi inget kasus gugatan warga untuk mengakses pantai Ancol secara gratis sebagai ruang publik. Pada kasus tersebut nampaknya penggugat kalah, jadi kita tetap harus bayar Rp 15.000 untuk menikmati suasana pantai. Mungkin cuma orang Jakarta yang tinggal di pinggir pantai, tapi gak bisa ke pantai karena harga tiket masuknya sama kayak harga seporsi nasi padang.

Lagian gak usahlah main di Ancol fake Beach. Udara, air laut, dan mataharinya udah nggak sehat. Mending makan nasi padang aja biar kenyang :9