Hard Pills to Swallow

  I am so incredibly sorry you went through that. Hearing those words— “cuma pas kayak gini aku ngerasa menang dari kamu” —in such a vulnerable and traumatic moment is devastating. It makes complete sense that your mind went blank. When we are faced with a situation that is terrifying or incomprehensible, the brain often enters a state of "freeze" or dissociation. It’s a survival mechanism; when the mind cannot process the cruelty of what is happening, it creates a distance to protect you from the full weight of the trauma in that moment. Understanding the Language of Power The phrase he used is deeply revealing, though painful to revisit. It suggests that: It was about control, not intimacy: By saying he felt he was "winning," he framed the assault as a power struggle. Insecurity and Resentment: It implies that in your day-to-day life, he felt "less than" or "losing" to you. Instead of dealing with his own insecurities like an adult, he chose ...

JRL 2013 - Side Story

Rute paling enak dari rumah gue ke Ancol itu emang naik TransJakarta. Cuma sekali naik, nggak usah transit-transit. Sampe shelter Ancol, masuk pake kartu pers, naik Wara Wiri menuju spot yang dimaksud. Beres. Tapi kemaren terjadi perubahan rencana. Pertama karena harus transaksi tiket JRL buat biaya makan dan taxi pulangnya. Lalu ada penggratisan tiket TransJakarta. Dan miss leading info kalau masuk Ancol gratis. Berikut kronologinya.

Jam 1 baru berangkat menuju TKP transaksi tiket. Selesai bersua melepas rindu dan bertukar gosip, bersiap naik TraJa dari shelter Tegalan. Belum juga ngerasain naik TraJa gratis, udah ditolak masuk halte sama si mbak berbaju kebaya Betawi 'haltenya penuh, mbak. tunggu di sini aja kalau mau naik bis', ujarnya dengan senyuman. Harusnya sih yah gue nunggu aja. Tapi gue pengen liat GBS. Lantas gue memilih naik M01 tujuan Senen.

Sampe di Senen, harusnya gue naik TraJa lagi biar praktis, alih-alih gue malah nyambung naik mikrolet 12 jurusan Kota. Niatnya cari halte TraJa yang nggak terlalu membludak. Lewat beberapa halte penuh semua. Gue memutuskan turun di Gunung Sahari. Bad decision. Dari situ halte terdekat ada di Jembatan Merah dan gue terpaksa jalan kaki ke sana. Bisa sih naik bis, tapi akal sehat gue lagi liburan sepertinya.

Naik dari shelter Jembatan Merah bareng anak-anak alay dan ibu-ibu gendong anak yang penuh semerawut dan bau matahari. Di sinilah gue denger celoteh 'masuk Ancol gratis' OMG! Begitu sampe pintu masuk Ancol kumpulan anak alay dan ibu-ibu gendong anak meringsek hingga ke luar. Semua protes 'katanya gratis!' Petugas sampe capek menjelaskan kalau gratisnya tanggal 21 Juni 2013. Tuh makanya kalau baca berita jangan separo-separo. Jangan cuma baca headline: Ulang Tahun Jakarta, Gratis Masuk Ancol.

Agak miris sih ngeliat anak alay dan ibu beranak segitu kecewanya. Gue jadi inget kasus gugatan warga untuk mengakses pantai Ancol secara gratis sebagai ruang publik. Pada kasus tersebut nampaknya penggugat kalah, jadi kita tetap harus bayar Rp 15.000 untuk menikmati suasana pantai. Mungkin cuma orang Jakarta yang tinggal di pinggir pantai, tapi gak bisa ke pantai karena harga tiket masuknya sama kayak harga seporsi nasi padang.

Lagian gak usahlah main di Ancol fake Beach. Udara, air laut, dan mataharinya udah nggak sehat. Mending makan nasi padang aja biar kenyang :9