Coffee and Contemplation - 1

  It was a pleasant evening, and I always order a Japanese iced filter whenever I spend time at this particular slow bar in Jakarta. As I sipped my 50k-something coffee, my mind began to contemplate the passage of time. Ten years ago, I only paid 18k for the same menu item, the same beans. I understand how inflation works, and I know that coffee crops depend heavily on nature to thrive. Yet, as I sat there, I realized how drastically prices have skyrocketed over the last decade—not just for coffee, but for everything. Even though my salary has increased fourfold in that time, I still feel as though my buying power has weakened. It wasn't just the price of the beans that bothered me; it was the realization that the cost of living is quietly eroding everything I’ve worked for. I won't go into the weeds of government mismanagement, but it reminded me of a scene in The Trial of the Chicago 7 , where Joseph Gordon-Levitt’s character asks Sacha Baron Cohen’s about his contempt for hi...

choose to be happy

Saya kenal rekan kerja yang satu ini hanya beberapa bulan. Sepanjang bulan yang singkat itu, ia terus mengeluhkan pekerjaannya. Gaji, fasilitas, jobdesk, tingkah bos dan rekan kerja lainnya.
Ia lebih tidak bahagia dari saya, ketika itu.Dan ketidakbahagiaannya tercermin keluar. Ia tampak lusuh, tidak menarik, jarang tersenyum dan seriiing banget ngedumel.
Barusan saya bertemu dia di arena konser. Ia menangkap tangan saya yang menggapai-gapai udara. Perlu beberapa detik bagi saya untuk mengenalinya. Bahkan saya baru ingat namanya sekarang ini.
Apa yang berubah? Pancaran auranya. Ia sekarang bahagia. Ia tidak menyatakan itu, saya pun tidak menanyakannya. Saya hanya yakin ia bahagia. Mungkin karena saat itu ia sedang menyaksikan penampilan artis favorit. Mungkin juga karena tempat barunya lebih menyenangkan.
Tadi saya tidak sempat merasa iri karena pancaran kebahagiaannya. Justru saya merasa bersyukur ia menemukan kantor yang bisa membuatnya menyukai hal yang ia kerjakan. Seperti saya bilang, buat beberapa orang, kantor yang dicari adalah yang nyaman.
Nah, kita selalu punya pilihan. Bertahan di kantor lama dengan gaji seadanya dan pekerjaan yang tidak kita sukai, pindah ke kantor bergaji tinggi dan melakukan hal baru yang tidak membuat kita nyaman, atau membebaskan diri dari keharusan absen 9-6. We can always choose. So choose to be happy.
Published with Blogger-droid v2.0.10