Borrowed Sorrow

  Growing up, I spent most of my time alone. I spent it reading, playing pretend, writing short stories, dancing, and exploring. Of course, I had a crew: a bunch of busybody teenagers exploring the infinite possibilities of our hometown. When puberty hit, I fell in love with the idea of falling in love, but not the actual relationship part. I mostly read about romance in teen magazines and already felt exhausted by the obligations society threw at girls. Back in my day, being sad was a trend. I was there when the first emo punk bands debuted on MTV. I was there when Avril swapped her skateboard for a tutu. But personally, I was happy. So, I borrowed sorrow from pop culture instead. I picked up my brother’s beat-up guitar and learned to play the most heart-numbing songs. I was an emo girl. The quiet kind you could only discover by reading my notes or scrolling through my playlist. I am a middle-aged woman now. What was once a borrowed sorrow has become the story of my life. Those c...

Bertemu kawan lama

Hari ini saya punya janji bertemu kawan lama. Dia yang saya kenal selalu berkata pedas. Komentarnya dimaksudkan untuk menjatuhkan harga diri lawan bicaranya. Dia juga teman yang setia. Tidak pernah ragu mengeluarkan materi dan tenaga untuk membantu teman lainnya. Selalu punya waktu untuk mendengarkan keluh kesah siapa saja. Nikmati drama seperti ia menciptakannya.
Hari ini kami akan bertemu. Seperti tahun-tahun lalu, ia selalu memilih duduk di dekat jendela. Menatapi orang lalu lalang. Mereka cerita dalam otaknya, berbaur dengan imajinasinya.
Saya menyapanya, 'apa kabar?' Melihat garis wajahnya yang mengeras. Tatapannya masih setajam dulu, namun saya bisa melihat luka dan ambisi. Ia bukan peminum kopi. Tidak juga menggemari teh. Di hadapannya hanya ada sebotol air mineral dan laptop yang terbuka.
Ia mulai bercerita. Saya tau itu alasannya memanggil saya. Saya adalah satu-satunya teman yang ia percaya penilaiannya. 'Saya ini bukan seniman,' ia berkata, 'saya tidak bisa tetap berkarya tanpa diupah. Saya cuma orang upahan, buruh serabutan.'
'Tapi toh kamu tetap menulis kan? Hal-hal yang tidak kamu jual. Apa bayaran dari mereka?'
'Kewarasan. Dunia ini gila. Fiksi lebih masuk akal. Tapi di dunia nyata? Lebih menyeramkan, lebih banyak intrik. Menulis menetapkan kewarasan saya.'
'Kamu membenci dunia? Kenapa?'
'Seharusnya kita tidak bisa membenci dunia. Karena kita masih hidup di dalamnya. Namun saya tumbuh besar dengan kisah dalam otak saya. Seperti saya bilang, dunia nyata lebih menakutkan. Karena mereka nyata. Tidak, saya tidak membencinya.'
Lama kami terdiam. Ia mengetikkan sesuatu di laptopnya, mungkin pertemuan kami mengilhaminya sesuatu.
'Saya kalah.' ia berucap. Saya tau ia kalah sesering saya. Adalah hal baru ketika ia menyatakannya.
'Saya kalah. Saya gagal mewujudkan dunia ideal saya.'
'Kamu keliru. Jangan begitu keras pada diri sendiri. Kamu bukan Tuhan. Rencanamu tidak mutlak.'
'Tuhan? masih adakah Dia di atas sana? masih layakkah saya untuk memohon kemurahan hatinya?'
'Saya tidak tau itu.'
Pertemuan ini melelahkan. Ia seakan memeras otak saya untuk berpikir melewati akal sehat. Pertanyaannya adalah sampai mana akal sehat dia?
'Jika semua dikembalikan pada Tuhan, maka selesailah masalah saya. Apakah Tuhan yang menyelesaikannya? Atau Ia menarik tali saya untuk menyelesaikannya sendiri?'
'Kamu tau benar saya tidak bisa berspekulasi tentang cara kerja Tuhan.'
'Saya butuh uang.'
'Saya bisa memberikan itu.'
'Apakah uang akan menyelesaikan masalah saya?'
'Tidak juga. Penyelesaian masalahmu, apapun itu, berada pada penerimaan mu atas hal yang telah terjadi. Memaafkan dirimu. Karena kamu bukan malaikat yang tidak bisa salah.'
'Kamu membosankan. Kenapa kamu selalu bisa menjawab pertanyaan saya?'
'Karena jawaban itu mudah. Berbeda dengan pertanyaan. Kadang, pertanyaan dibuat sulit. Tapi jawabannya selalu mudah.'
'Hidup mu pasti bahagia.'
'Kadang. Kadang juga tidak. Toh saya berusaha tidak bicara terlalu banyak. Karena lidah tidak selalu bisa menyelesaikan masalah.'
Kami kembali diam. Saya tau banyak hal yang tidak ia pahami. Berulang kali saya berkata padanya. Hidup tidak untuk dipahami. Kadang kita hanya bisa menjalaninya dan siap untuk terkejut.
'Saya pernah bilang kan,' ucap saya, 'kamu tidak perlu mempertanyakan setiap hal yang terjadi. Jika ada yang meninggalkanmu, itu bukan salahmu. Jika kamu tidak punya uang, kamu tidak perlu memaksakan untuk punya. Hiduplah apa adanya. Tanpa prasangka, tanpa tekanan.'
'Kamu, pernahkan ke dunia nyata? di sana penuh prasangka dan tekanan. Saya sangsi kamu yang seperti ini dapat bertahan sedetik di sana.'
Dia benar. Bagaimanapun saya tidak nyata. Saya bagian dari dunianya yang ia bangun untuk melindungi diri dari kenyataan yang keras. Seperti yang ia bilang, saya diperlukan untuk menjaga kewarasannya. Pada akhirnya, ia harus sadar. Tiada seorang pun yang harus ia senangkan. Hidupnya adalah miliknya. Tanpa prasangka. Tanpa tekanan. Begitu, baru manusia bisa hidup sebagai dirinya sendiri.
Published with Blogger-droid v2.0.10