SCREAM

"Kenapa tidak berteriak?"   Pertanyaan yang selalu muncul ke permukaan dalam diskursus kekerasan seksual. Ada tuntutan tersirat tentang konsep the perfect victim,  bahwa korban yang "sah" haruslah sesosok manusia suci tanpa cela yang melawan sekuat tenaga. Jika kamu membeku karena shock dan tidak berteriak, maka di mata mereka, kamu bukan korban. "Kenapa mau ikut pergi sama terlapor?"   Pertanyaan berikutnya. Mengesankan bahwa jika korban setuju untuk bertemu atau bepergian, maka ia juga otomatis menyetujui tindakan kekerasan seksual yang terjadi. Logika usang ini menganggap kekerasan seksual tidak akan terjadi jika korban bisa menjaga diri dengan baik: tidak dekat dengan pelaku, tidak tinggal bersama pelaku, dan selalu waspada. Lagi-lagi, tuntutan menjadi a perfect victim . "Kalau sudah tahu dia begitu, kenapa tidak ditinggalkan? Kenapa masih mau berhubungan?" Bahkan aparat penegak hukum pun sering kali sulit menerima kenyataan ini. Mereka gagal...

heroine complex


seorang teman bertanya: kok lo gak pernah cerita tentang love life lagi? selalu tentang kerjaan.
Karena, cinta itu abstrak. Dan gue bukan seniman yang bisa mengapresiasikan sesuatu yang abstrak. Karena, ada masanya puluhan bahkan ratusan cewek menulis/berbicara tentang masalah cinta mereka. Dan gue harus sok bijak memberi jawaban. Lantas masa gue harus datang ke orang lain untuk minta insight atas masalah gue? Lagian gue pikir love life gue (if i have any) bukan hal penting untuk dibahas secara mendalam dan dibedah apa serta kenapanya. Kalau pun ada masalah, gue pasti tau how to figure it out. Berani atau nggak melakukannya, itu lain cerita.
Justru yang gue addict itu adalah perasaan jatuh cinta. Geliat emosi dan hasrat memanggil rangkaian kata dalam otak. Lagian lelaki yang gue puja sudah lama berubah. Tergantikan sosok dingin yang menatap dengan jijik. Gue tidak merindukan kecuali kenangan. Sayangnya masa lalu adalah tempat rekreasi terjauh, gue gak bisa meraihnya.
Jadilah gue gak pernah bercerita (lagi). Karena cuma sedikit yang bertanya atas dasar peduli, kebanyakan cuma penasaran. Karena gue bosan jadi bahan omongan.
Disclaimer: tulisan disponsori oleh hari pertam menstruasi dan sms tanpa balasan.
Published with Blogger-droid v2.0.10