Apa Kabar, Bo?

  Apa kabar, Bo? Kemarin saya ke Gramedia. Sanctuary saya pas jaman SD. Dulu waktu Hero Swalayan masih ada di Gatot Subroto. Biasanya saya ke sana setelah ngumpulin duit jajan seminggu dan bisa buat beli komik. Ngga seperti sekarang, dulu banyak komik yang sampul plastiknya terbuka, jadi saya puas-puasin baca sebelum akhirnya beli cuma satu.  Jaman itu majalah Bobo tidak setipis sekarang. Apalagi pas edisi khusus, tebalnya bisa ngalahin kamus. Hahaha, bercanda ya, Bo. Bobo benar-benar teman bermain dan belajar saya, ada beberapa dongeng dunia yang sampai detik ini saya masih ingat. Ada juga dongeng lokal yang jadi favorit saya. Mungkin penulis Bobo sudah lupa, ada sebuah cerpen, yang memuat cerita ibu petani yang asik bekerja hingga anaknya kelaparan. Saya ingat ada syairnya: tingting gelinting, perutku sudah genting, kelaparan mau makan. Saya kemudian meniru syair tersebut dan dimarahin Mama. Beliau bilang, ngga pantas didenger orang. Oh ya, Bo. Mama adalah orang yang berjasa...

jakarta pagi ini

Apa yang paling seru untuk memulai hari ini selain segelas hot peppermint tea dan setangkup roti isi tuna? i got the answer: menggagalkan pencopetan lantas diancam oleh pencopetnya. Hal ini terjadi kira-kira 15 menit lepas dari jam 9 pagi tadi.
Gue memulai hari seperti biasa, makan nasi uduk dan oreo. Pilihan rute hari ini agak berbeda, karena ada rencana photoshoot di sekitaran Senopati. Tepat jam 9 naik metromini 75 pasar minggu- blok m, gue langsung merutuki diri. Damn, salah pilih rute. Macet banget.
Gue duduk di belakang supir. Lalu main ponsel, ngecek email, ngetawain postingan di 9gag. Memasuki Pasar Mampang, banyak penumpang mulai turun. Salah satunya ibu berbaju biru dengan tas LV KW. Gue sedang mencemooh tas KW si ibu saat ada tangan yang berusaha membuka kunci tas itu.
Refleks gue nanya 'kenapa pak?' sumpah ketika itu gue gak ngeh kalau profesi si bapak adalah pencopet di bus kota. Bapak itu mendelik ke gue dan menutupi tas LV KW dengan jaket hitamnya.
Gue yang emang kelewat penasaran, menyibak jaket itu dan nanya lagi 'ngapain sih?' ini nadanya gak nyolot karena gue masih gak sadar akan profesi si bapak. Si bapak yang sewot dan menggerakkan tangannya hendak memukul gue. Saat itu gue baru sadar kalau dia copet. Si bapak mungkin melihat tatapan bodoh dan gak ngerti gue, akhirnya dia mundur ke kursi belakang. Gue makin sadar kalau dia bukan suami si ibu berbaju biru.
Gue bilang ke si ibu 'jagain tasnya'.
Aslinya gue belum mau turun, tapi kondisi bis yang jadi kosong bikin gue parno. Akhirnya gue turun di halte transjakarta Giant Mampang bareng ibu itu dan 90% penumpang bis. Si ibu bilang makasih ke gue. Gue iya-iya aja.
Baru beberapa jalan gue melangkah dari jembatan penyebrangan, copet tadi datang dari arah berlawanan. Si bapak yang pake baju kuning kunyit, copet pertama yang gue pergoki dengan naifnya, tanpa ragu-ragu mendekati gue dan bilang: 'MATI LO!'. Di belakang si bapak, gak kalah sangar ada satu lagi yang berbaju merah marun. Menabrak gue dengan bahunya hingga hampir keserempet motor. Pengendara motor mendelik marah ke gue. Gue lari ke tengah keramaian. Gemeteran.
Emosi gue tumpah. Did i doing it wrong? Gue nelepon seorang teman sambil gemetaran dahsyat dan airmata berloncatan keluar. Gue butuh menenangkan diri.
Beberapa pedagang warung gerobak melihat keanehan pada gue dan bertanya. Mendengarkan cerita gue penuh simpati, menawarkan segelas aqua yang gue terima dengan waspada, lantas mengantar gue ke Anomali Coffee.
Ini bukan pertama kalinya gue menggagalkan pencopetan. Tapi, iya, ini pertama kalinya gue merasa nyawa gue terancam.
Naik bis kota gak akan pernah terasa sama lagi.
Selamat pagi menjelang siang, Jakarta, petualang tanpa akhir.
Published with Blogger-droid v2.0.9