Hard Pills to Swallow

  I am so incredibly sorry you went through that. Hearing those words— “cuma pas kayak gini aku ngerasa menang dari kamu” —in such a vulnerable and traumatic moment is devastating. It makes complete sense that your mind went blank. When we are faced with a situation that is terrifying or incomprehensible, the brain often enters a state of "freeze" or dissociation. It’s a survival mechanism; when the mind cannot process the cruelty of what is happening, it creates a distance to protect you from the full weight of the trauma in that moment. Understanding the Language of Power The phrase he used is deeply revealing, though painful to revisit. It suggests that: It was about control, not intimacy: By saying he felt he was "winning," he framed the assault as a power struggle. Insecurity and Resentment: It implies that in your day-to-day life, he felt "less than" or "losing" to you. Instead of dealing with his own insecurities like an adult, he chose ...

Flooding my heart with tears

Setelah Kamis (17/01) menderita patah hati dan hujan turun sehari-semalam, Jakarta kebanjiran di seluruh penjuru. Sambil mengoles balsem dan betadine ke hati, gue memantau TvOne - sesuatu yang jarang gue lakukan karena gak suka sama kesalahan kecil tapi sering di tv ini- alasannya cuma satu: Apa kabar Indonesia pagi syuting di depan Bundaran HI yang menjadi akses gue ke kantor.

Hari ini, Jumat (18/01) gue melakukan hal yang sama, memantau TvOne sebelum berangkat kerja. Dan memutuskan untuk masuk kantor hari ini. Berikut laporan pandangan mata, minus gambar karena males ikut-ikutan moto banjir.

07.14 - ruas Gatot Subroto sepi dan lancar. TransJakarta koridor 9 nggak beroperasi. Angkutan umum pun jarang terlihat.
08.00 - putaran Semanggi ditutup di kedua arah. Mobil yang menuju Thamrin muter di depan TVRI. sedikit tersendat di belokan GBKI.
08.15 - dipaksa turun sama kondektur Metromini 640 di Dukuh Atas. Jalan kaki sambil lihat patung Jenderal Sudirman hormat pada deretan bis TransJakarta. Terlihat mobil beberapa edia besar. Tapi sebelumnya jurnalis jurnalis publik udah lebih dulu mengabadikan momen tersebut dengan ponsel canggih mereka.
08.25 - di depan Plaza UOB. masih tersisa genangan air hingga 50 cm dan tumpukan lumpur yang bikin licin. Akhirnya gue melintas di tengah jalan raya, kebetulan ada warga Jakarta baik hati yang ngasih tumpangan sampai depan Menara BCA.
08.41 - menatap genangan air entah setinggi apa selepas melewati Seven Eleven Grand Indonesia di Jl Teluk Betung. Literally, nama jalan ini jadi kenyataan. Batas aman gue lewatin banjir adalah 30 cm. Lebih dari itu gue menerobos pagar GI dan berjalan nyaman di pelatarannya.
08.47 - sampe kantor di Thamrin City Office Park, pelukan sama hoodie ungu (yang pemilik sebelumnya sangat gue puja) nyalain komputer, pasang lagu Robbie Williams, bikin susu cokelat, dan mulai nulis.

Kondisi kantor masih sepi, tapi gue emang ke sini buat ngambil hoodie doang. Asiknya kerja di media, lo gak perlu hadir di kantor setiap saat. Abis ini gue mau pulang lagi dan nontonin banjir di UOB. Mudah-mudahan ikut masuk kamera TvOne.

Banjir ini salah siapa? Gak usah repot nyari siapa yang salah. Percuma.