Coffee and Contemplation - 1

  It was a pleasant evening, and I always order a Japanese iced filter whenever I spend time at this particular slow bar in Jakarta. As I sipped my 50k-something coffee, my mind began to contemplate the passage of time. Ten years ago, I only paid 18k for the same menu item, the same beans. I understand how inflation works, and I know that coffee crops depend heavily on nature to thrive. Yet, as I sat there, I realized how drastically prices have skyrocketed over the last decade—not just for coffee, but for everything. Even though my salary has increased fourfold in that time, I still feel as though my buying power has weakened. It wasn't just the price of the beans that bothered me; it was the realization that the cost of living is quietly eroding everything I’ve worked for. I won't go into the weeds of government mismanagement, but it reminded me of a scene in The Trial of the Chicago 7 , where Joseph Gordon-Levitt’s character asks Sacha Baron Cohen’s about his contempt for hi...

Flooding my heart with tears

Setelah Kamis (17/01) menderita patah hati dan hujan turun sehari-semalam, Jakarta kebanjiran di seluruh penjuru. Sambil mengoles balsem dan betadine ke hati, gue memantau TvOne - sesuatu yang jarang gue lakukan karena gak suka sama kesalahan kecil tapi sering di tv ini- alasannya cuma satu: Apa kabar Indonesia pagi syuting di depan Bundaran HI yang menjadi akses gue ke kantor.

Hari ini, Jumat (18/01) gue melakukan hal yang sama, memantau TvOne sebelum berangkat kerja. Dan memutuskan untuk masuk kantor hari ini. Berikut laporan pandangan mata, minus gambar karena males ikut-ikutan moto banjir.

07.14 - ruas Gatot Subroto sepi dan lancar. TransJakarta koridor 9 nggak beroperasi. Angkutan umum pun jarang terlihat.
08.00 - putaran Semanggi ditutup di kedua arah. Mobil yang menuju Thamrin muter di depan TVRI. sedikit tersendat di belokan GBKI.
08.15 - dipaksa turun sama kondektur Metromini 640 di Dukuh Atas. Jalan kaki sambil lihat patung Jenderal Sudirman hormat pada deretan bis TransJakarta. Terlihat mobil beberapa edia besar. Tapi sebelumnya jurnalis jurnalis publik udah lebih dulu mengabadikan momen tersebut dengan ponsel canggih mereka.
08.25 - di depan Plaza UOB. masih tersisa genangan air hingga 50 cm dan tumpukan lumpur yang bikin licin. Akhirnya gue melintas di tengah jalan raya, kebetulan ada warga Jakarta baik hati yang ngasih tumpangan sampai depan Menara BCA.
08.41 - menatap genangan air entah setinggi apa selepas melewati Seven Eleven Grand Indonesia di Jl Teluk Betung. Literally, nama jalan ini jadi kenyataan. Batas aman gue lewatin banjir adalah 30 cm. Lebih dari itu gue menerobos pagar GI dan berjalan nyaman di pelatarannya.
08.47 - sampe kantor di Thamrin City Office Park, pelukan sama hoodie ungu (yang pemilik sebelumnya sangat gue puja) nyalain komputer, pasang lagu Robbie Williams, bikin susu cokelat, dan mulai nulis.

Kondisi kantor masih sepi, tapi gue emang ke sini buat ngambil hoodie doang. Asiknya kerja di media, lo gak perlu hadir di kantor setiap saat. Abis ini gue mau pulang lagi dan nontonin banjir di UOB. Mudah-mudahan ikut masuk kamera TvOne.

Banjir ini salah siapa? Gak usah repot nyari siapa yang salah. Percuma.