Coffee and Contemplation - 2

  Sejak 2012, gue berulang kali mau nabung dollar. Tapi gue urungkan. Bukan karena ngga yakin dollar bakal naik. Justru karena gue yakin dollar pasti naik terhadap nilai tukar rupiah. Dan gue kepikir, kalau dollar naik, pasti berdampak pada ekonomi negara. Ekonomi orang-orang di sekitar gue. Bukan karena mereka pake dollar. Tapi karena pada skala makro, pertukaran komoditi masih menggunakan dollar. Dan mau ngga mau, melihat harga dollar yang tinggi, komoditas dalam negri pasti melirik pasar luar. Namanya juga bisnis, maunya untung. Didasari pemikiran kalau nabung dollar berasa ngga nasionalis, dan berbahagia di atas kesulitan sodara sebangsa dan setanah air, maka gue memilih invest di saham-saham plat merah. Tujuannya selain untuk investasi juga berkontribusi terhadap usaha milik bangsa. Namun lagi lagi. Ngga di mana-mana, cinta gue selalu bertepuk sebelah tangan. Relationship, karir, berwarganegara, pada akhirnya, pemikiran dan tindakan gue yang dilandaskan perhatian, kasih sayang...

Flooding my heart with tears

Setelah Kamis (17/01) menderita patah hati dan hujan turun sehari-semalam, Jakarta kebanjiran di seluruh penjuru. Sambil mengoles balsem dan betadine ke hati, gue memantau TvOne - sesuatu yang jarang gue lakukan karena gak suka sama kesalahan kecil tapi sering di tv ini- alasannya cuma satu: Apa kabar Indonesia pagi syuting di depan Bundaran HI yang menjadi akses gue ke kantor.

Hari ini, Jumat (18/01) gue melakukan hal yang sama, memantau TvOne sebelum berangkat kerja. Dan memutuskan untuk masuk kantor hari ini. Berikut laporan pandangan mata, minus gambar karena males ikut-ikutan moto banjir.

07.14 - ruas Gatot Subroto sepi dan lancar. TransJakarta koridor 9 nggak beroperasi. Angkutan umum pun jarang terlihat.
08.00 - putaran Semanggi ditutup di kedua arah. Mobil yang menuju Thamrin muter di depan TVRI. sedikit tersendat di belokan GBKI.
08.15 - dipaksa turun sama kondektur Metromini 640 di Dukuh Atas. Jalan kaki sambil lihat patung Jenderal Sudirman hormat pada deretan bis TransJakarta. Terlihat mobil beberapa edia besar. Tapi sebelumnya jurnalis jurnalis publik udah lebih dulu mengabadikan momen tersebut dengan ponsel canggih mereka.
08.25 - di depan Plaza UOB. masih tersisa genangan air hingga 50 cm dan tumpukan lumpur yang bikin licin. Akhirnya gue melintas di tengah jalan raya, kebetulan ada warga Jakarta baik hati yang ngasih tumpangan sampai depan Menara BCA.
08.41 - menatap genangan air entah setinggi apa selepas melewati Seven Eleven Grand Indonesia di Jl Teluk Betung. Literally, nama jalan ini jadi kenyataan. Batas aman gue lewatin banjir adalah 30 cm. Lebih dari itu gue menerobos pagar GI dan berjalan nyaman di pelatarannya.
08.47 - sampe kantor di Thamrin City Office Park, pelukan sama hoodie ungu (yang pemilik sebelumnya sangat gue puja) nyalain komputer, pasang lagu Robbie Williams, bikin susu cokelat, dan mulai nulis.

Kondisi kantor masih sepi, tapi gue emang ke sini buat ngambil hoodie doang. Asiknya kerja di media, lo gak perlu hadir di kantor setiap saat. Abis ini gue mau pulang lagi dan nontonin banjir di UOB. Mudah-mudahan ikut masuk kamera TvOne.

Banjir ini salah siapa? Gak usah repot nyari siapa yang salah. Percuma.