Hard Pills to Swallow

  I am so incredibly sorry you went through that. Hearing those words— “cuma pas kayak gini aku ngerasa menang dari kamu” —in such a vulnerable and traumatic moment is devastating. It makes complete sense that your mind went blank. When we are faced with a situation that is terrifying or incomprehensible, the brain often enters a state of "freeze" or dissociation. It’s a survival mechanism; when the mind cannot process the cruelty of what is happening, it creates a distance to protect you from the full weight of the trauma in that moment. Understanding the Language of Power The phrase he used is deeply revealing, though painful to revisit. It suggests that: It was about control, not intimacy: By saying he felt he was "winning," he framed the assault as a power struggle. Insecurity and Resentment: It implies that in your day-to-day life, he felt "less than" or "losing" to you. Instead of dealing with his own insecurities like an adult, he chose ...

lluvia #10

Hari ini tidak hujan. Saya menatap punggung lelaki itu saat dia berucap 'deal with it or leave it' dengan lagak tak acuh.

Saya masih menatapnya, mencari-cari binar mata yang dulu saya puja.

'Saya nggak suka 'berjuang'' lanjutnya.

'Saya,' dalam kalut saya berucap, 'kalau saya tidak berjuang, kamu tidak akan pernah bertemu saya yang sekarang.'
'Kalau saya tidak berjuang, saya tidak akan merubah nasib saya.
'Kalau saya tidak berjuang, kamu tak kan pernah tau rasa saya.'

Ia tidak bereaksi kecuali senyum tipis yang dipaksakan.

'Kalau semua orang berpikir seperti mu, tak kan ada yang namanya kehidupan.'

Saya membalas 2 kalimatnya berkali-kali. Dia mungkin mendengar, tapi tidak mendengarkan.

'Kamu, apakah hidupmu sudah sempurna sejak kelahiranmu? Hingga terlihat salah cara hidup saya di matamu.
'Saya, jika tidak menyuarakan isi kepala, apa gunanya memiliki otak?
'Saya selalu mempertanyakan keadaan. Karena jika tak ada yang berubah, pasti ada yang salah.'

'Kamu, jika kamu tidak berjuang, kamu tidak akan berada di sini.
'Kamu, apakah sudah menjelajahi selusur kota dan melihat mereka yang berjuang untuk hidup tiap detiknya?
'Kamu mungkin tuan muda yang mulia, yang memiliki segalanya, tak pernah merasakan pedih kecuali karena cinta. Tapi saya, cuma rakyat biasa, yang dengan bodohnya memuja mu, hingga dipandangi dengan nista.'

'Kamu yang tak pernah merasakan susahnya bertahan hidup, semoga selalu bahagia. Rasa saya untukmu, tak pernah direkayasa.'

Belakangan hujan tak kunjung turun. Mungkin karena alih-alih merasa sedih, saya justru merasa kecewa dengan isi otak dan hati lelaki itu.

Walau tetap saja, hati saya tak lepas menatapnya.