Coffee and Contemplation - 1

  It was a pleasant evening, and I always order a Japanese iced filter whenever I spend time at this particular slow bar in Jakarta. As I sipped my 50k-something coffee, my mind began to contemplate the passage of time. Ten years ago, I only paid 18k for the same menu item, the same beans. I understand how inflation works, and I know that coffee crops depend heavily on nature to thrive. Yet, as I sat there, I realized how drastically prices have skyrocketed over the last decade—not just for coffee, but for everything. Even though my salary has increased fourfold in that time, I still feel as though my buying power has weakened. It wasn't just the price of the beans that bothered me; it was the realization that the cost of living is quietly eroding everything I’ve worked for. I won't go into the weeds of government mismanagement, but it reminded me of a scene in The Trial of the Chicago 7 , where Joseph Gordon-Levitt’s character asks Sacha Baron Cohen’s about his contempt for hi...

lluvia #10

Hari ini tidak hujan. Saya menatap punggung lelaki itu saat dia berucap 'deal with it or leave it' dengan lagak tak acuh.

Saya masih menatapnya, mencari-cari binar mata yang dulu saya puja.

'Saya nggak suka 'berjuang'' lanjutnya.

'Saya,' dalam kalut saya berucap, 'kalau saya tidak berjuang, kamu tidak akan pernah bertemu saya yang sekarang.'
'Kalau saya tidak berjuang, saya tidak akan merubah nasib saya.
'Kalau saya tidak berjuang, kamu tak kan pernah tau rasa saya.'

Ia tidak bereaksi kecuali senyum tipis yang dipaksakan.

'Kalau semua orang berpikir seperti mu, tak kan ada yang namanya kehidupan.'

Saya membalas 2 kalimatnya berkali-kali. Dia mungkin mendengar, tapi tidak mendengarkan.

'Kamu, apakah hidupmu sudah sempurna sejak kelahiranmu? Hingga terlihat salah cara hidup saya di matamu.
'Saya, jika tidak menyuarakan isi kepala, apa gunanya memiliki otak?
'Saya selalu mempertanyakan keadaan. Karena jika tak ada yang berubah, pasti ada yang salah.'

'Kamu, jika kamu tidak berjuang, kamu tidak akan berada di sini.
'Kamu, apakah sudah menjelajahi selusur kota dan melihat mereka yang berjuang untuk hidup tiap detiknya?
'Kamu mungkin tuan muda yang mulia, yang memiliki segalanya, tak pernah merasakan pedih kecuali karena cinta. Tapi saya, cuma rakyat biasa, yang dengan bodohnya memuja mu, hingga dipandangi dengan nista.'

'Kamu yang tak pernah merasakan susahnya bertahan hidup, semoga selalu bahagia. Rasa saya untukmu, tak pernah direkayasa.'

Belakangan hujan tak kunjung turun. Mungkin karena alih-alih merasa sedih, saya justru merasa kecewa dengan isi otak dan hati lelaki itu.

Walau tetap saja, hati saya tak lepas menatapnya.