Coffee and Contemplation - 2

  Sejak 2012, gue berulang kali mau nabung dollar. Tapi gue urungkan. Bukan karena ngga yakin dollar bakal naik. Justru karena gue yakin dollar pasti naik terhadap nilai tukar rupiah. Dan gue kepikir, kalau dollar naik, pasti berdampak pada ekonomi negara. Ekonomi orang-orang di sekitar gue. Bukan karena mereka pake dollar. Tapi karena pada skala makro, pertukaran komoditi masih menggunakan dollar. Dan mau ngga mau, melihat harga dollar yang tinggi, komoditas dalam negri pasti melirik pasar luar. Namanya juga bisnis, maunya untung. Didasari pemikiran kalau nabung dollar berasa ngga nasionalis, dan berbahagia di atas kesulitan sodara sebangsa dan setanah air, maka gue memilih invest di saham-saham plat merah. Tujuannya selain untuk investasi juga berkontribusi terhadap usaha milik bangsa. Namun lagi lagi. Ngga di mana-mana, cinta gue selalu bertepuk sebelah tangan. Relationship, karir, berwarganegara, pada akhirnya, pemikiran dan tindakan gue yang dilandaskan perhatian, kasih sayang...

lluvia #8

Kamu, lihat kah hujan turun tiada henti?
Menderu, menghantam daratan dengan jutaan ribu butiran air.
Kamu mungkin takkan percaya. Atau malah mencemooh.
But it's always rain whenever I'm sad.
Saya, katanya nggak bisa menangis. Rasanya bodoh menangis karena kamu.
Karena itu, hujan mencurahkan dirinya, menemani saya dan sekotak susu strawberry.
Kamu, adakah kiranya saya pernah terlintas dalam benak mu kala hujan turun?
Sungguh, ketika hujan turun, ketika itulah saya menangis meratapimu. Merinduimu. Menyesalimu. Mencintaimu.

Kamu dan rasa cinta saya, luruhlah dalam hujan.
Lenyaplah tanpa sisa.

Comments