Coffee and Contemplation - 1

  It was a pleasant evening, and I always order a Japanese iced filter whenever I spend time at this particular slow bar in Jakarta. As I sipped my 50k-something coffee, my mind began to contemplate the passage of time. Ten years ago, I only paid 18k for the same menu item, the same beans. I understand how inflation works, and I know that coffee crops depend heavily on nature to thrive. Yet, as I sat there, I realized how drastically prices have skyrocketed over the last decade—not just for coffee, but for everything. Even though my salary has increased fourfold in that time, I still feel as though my buying power has weakened. It wasn't just the price of the beans that bothered me; it was the realization that the cost of living is quietly eroding everything I’ve worked for. I won't go into the weeds of government mismanagement, but it reminded me of a scene in The Trial of the Chicago 7 , where Joseph Gordon-Levitt’s character asks Sacha Baron Cohen’s about his contempt for hi...

Late Night Story

Jakarta malam hari, hujan. Sisi jalan protokol Gatot Subroto. Kumpulan playlist musik 90an. Cahaya lampu kendaraan berkejar-kejaran. Ratusan jiwa tumpah ruah di jalan, menuju rumah. Gue ada di antara mereka. Dengan perut kosong dan otak dipenuhi 2 konsep pemotretan.

Apa hidup itu kudu gini yah? Tiap hari pergi berlomba dengan naiknya matahari. Seharian memeras pikiran dan tenaga buat kerjaan. Kelelahan pulang tanpa sempat menikmati senja. Lalu, manusia itu nyari apa sepanjang hidupnya?

Gue selalu mempertanyakan hidup gue. Mempertanyakan apa yang sudah dan yang akan gue lakukan. Kadang gue nemu jawabannya. Tapi pas gue terbentur pada pertanyaan yang sama di waktu berikutnya, jawaban gue tadi udah nggak valid lagi.

Entah untung apa nggak, ternyata bukan cuma gue yg mempertanyakan hidup. Satu orang temen gue juga begitu. Malangnya, dia bahkan belum menemukan apa yang ingin ia lakukan dalam hidupnya.

Gue? Gue selalu bilang, saat ini gue sedang menjalani salah satu dari 5 dream job gue. Mantan bos gue, sekali pernah ngomong: jadi wartawan nggak akan bisa kaya, kamu Shin. Waktu itu gue jawab: kaya kan gak cuma diukur pake materi, pak. Saya mau kaya hati aja. Kaya ilmu, kaya pengalaman, sesuatu yang nggak akan pernah habis dan kalau dicuri orang, kita malah dapet berkah.

Belakangan, gue nemu pertanyaan lagi: kenapa hidup gue terikat pada dunia? Apa gue salah jalan? Apa gue mulai terlepas dari mengingat Tuhan?
Manusia itu tempatnya lupa. Saking asiknya kerja keras, gue suka mikir hasil yang gue dapet ini karena pemikiran dan perbuatan gue. Baik ataupun buruk. Kadang gue suka tanpa sengaja meniadakan campur tangan Tuhan.

Ah, Jakarta diguyur hujan selalu bikin gue punya waktu untuk berpikir. Menganalisa hidup gue. Ngitung-ngitung amalan buat akhirat. Inget mati. Inget, biarpun abstrak, ada kekuatan besar yang campur tangan dalam kehidupan gue.

There is no such thing as coincidence, just God's hand in a greater plan.

Sejenak, mari kita merenung.

Shinta.

Comments