Coffee and Contemplation - 2

  Sejak 2012, gue berulang kali mau nabung dollar. Tapi gue urungkan. Bukan karena ngga yakin dollar bakal naik. Justru karena gue yakin dollar pasti naik terhadap nilai tukar rupiah. Dan gue kepikir, kalau dollar naik, pasti berdampak pada ekonomi negara. Ekonomi orang-orang di sekitar gue. Bukan karena mereka pake dollar. Tapi karena pada skala makro, pertukaran komoditi masih menggunakan dollar. Dan mau ngga mau, melihat harga dollar yang tinggi, komoditas dalam negri pasti melirik pasar luar. Namanya juga bisnis, maunya untung. Didasari pemikiran kalau nabung dollar berasa ngga nasionalis, dan berbahagia di atas kesulitan sodara sebangsa dan setanah air, maka gue memilih invest di saham-saham plat merah. Tujuannya selain untuk investasi juga berkontribusi terhadap usaha milik bangsa. Namun lagi lagi. Ngga di mana-mana, cinta gue selalu bertepuk sebelah tangan. Relationship, karir, berwarganegara, pada akhirnya, pemikiran dan tindakan gue yang dilandaskan perhatian, kasih sayang...

Fake it, but will u make it?

Gue tau beberapa akun twitter bener-bener pencitraan abis. Kenapa gue berani bilang gitu, karena gue berinteraksi dengan si pemilik akun, mari kita namakan Mrs M, di dunia nyata. Suka gemes sih kalau apa yang ditweet saking palsunya malah kayak delusional.

Since I hate mocking someone, gue pun membuka halaman twitter gue. Gue baca satu-satu. Ah, kalau dari sudut pandang orang laen, mungkin gue sama palsunya dengan Mrs M. Sama delusionalnya juga kali. Sama-sama self centered. Mungkin gue gak suka tweet Mrs M karena kami mirip kali yah.

Ah, gue emang delusional, tapi gue kagak palsu. Kalau Mrs M, eh dese kagak palsu juga, sih. Kami cuma delusional aja. Mendekati titik akut.

Comments