Did you found it, yet?

Menjelang tengah malam, ada junior BBm, nanya sesuatu.

'Kak Shinta, abis lulus dari kampus, langsung jadi wartawan?
Aku tanyain senior-senior, banyakan yang kerjanya keluar jalur jurusan kita yah.'

Ah, dilema, dilema. Dari dulu ini jurusan emang jadi dilema. Pas gue awal masuk kuliah, senior gue bahkan nanya ke gue 'lo mau ngapain masuk jurusan ini? Jadi polisi? Detektif? Mimpi.' Ujarnya.
Dan pertanyaan serupa, turun temurun ditanyakan lagi pada angkatan yang baru masuk. Lo mau ngapain?

Awal lulus dulu, gue juga bingung. Mau kerja apa yah? Abis semua lowongan secara spesifik menuliskan: sarjana ekonomi, teknik, komunikasi, bahasa, dll. Belum pernah gue baca lowongan di koran: membutuhkan lulusan Kriminologi. Sampe sekarang belum nemu lowongan macam itu.

Buat PNS-minded, pas pembukaan CPNS di pertengahan 2009, ada beberapa departemen yang terang-terangan meminta sarjana lulusan Kriminologi. Misalnya BNN, BIN, Depkumham dan pastinya kepolisian. Sekarang udah banyak juga jebolan IKK yang menjelajah departemen itu.

Gue nggak punya jiwa PNS. Keseluruhan birokrasi negeri ini layaknya pain in the ass, bagi gue. Babeh pernah ditawarin bayar sekian juta supaya gue bisa masuk departemen pemerintahan. Kontan, gue menolak. Gue nggak suka jam kerja PNS. Absen jam 11, makan siang sampe jam2, pulang jam4. Tentunya hal ini nggak bisa digeneralisasi. Tapi gue ada beberapa tetangga dan keluarga yang jadi PNS, dan itulah yang gue lihat. Jadi, gue masih nggak berminat gabung dengan pemerintah.

Gue selesai sidang bulan Desember 2008. Januari-Maret 2009, gue masih ngurusin berkas-berkas kelulusan. Sungguh berbelit-belit. April 2009, udah mulai banyak wawancara kerja. Gue nggak berharap langsung diterima di wawancara pertama, gue masih mengobservasi, gimana caranya menghadapi wawancara kerja. Gimana caranya terlihat antusias tanpa terlihat desperate butuh kerjaan. Gimana negosiasi gaji, apa aja hak dan kewajiban serta jobdesk dari posisi yang gue lamar. Sort of.

Mei 2009, gue keterima kerja di perusahaan asuransi. Gaji awalnya 3juta sekian. Kantornya di Sudirman. Jobdesknya masih lumayan, walaupun melenceng jauh dari mata kuliah yang gue ambil. Sekitar 3 minggu, gue mengundurkan diri. Berikutnya, gue dapet posisi jadi calon broker. Kali ini kantornya di thamrin. Gaji pokok 2 juta, tapi kalau gue punya klien, gue akan dapet komisi minimal 10 juta. 2 minggu kemudian, gue cabut.

Sempet nggak tau mau ngapain lagi. Akhirnya gue bantu-bantu penelitian orang aja. Jadi freelance ngumpulin data. Sambil tetep wawancara kerja. Terakhir, gue wawancara buat perusahaan outsourcing sekuriti, eh malah ditawarin ngelatih Taekwondo. Aduh, kapabilitas saya masih kurang. Tiap minggu, gue pasti beli koran buat baca lowongan. Terus ada lampu nyala di otak gue. 'Masih banyak orang yang baca media cetak. Kenapa gue nggak kerja di situ aja?' Mulai deh perjalanan gue jadi jurnalis.

Lalu, apa kabar ilmu yang udah gue timba selama 4 tahun di kampus? Hm, gue masih menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Nggak secara gamblang, tapi sedikit banyak, ilmu itu membantu gue. Sebenernya, banyak yang menyayangkan gue cabut dari tempat kerja bergaji besar itu. Kembali lagi, apa yang lo cari? Gaji tinggi? Karir mantap? Sekedar biar nggak dicap pengangguran?

Kalau udah tau apa yang lo cari, fokus. Kemudian lihat, apa yang akan terjadi. Iya gak, opa Mario? Hehehe

Ciao,
Shinta the Seeker.

Comments