Hard Pills to Swallow

  I am so incredibly sorry you went through that. Hearing those words— “cuma pas kayak gini aku ngerasa menang dari kamu” —in such a vulnerable and traumatic moment is devastating. It makes complete sense that your mind went blank. When we are faced with a situation that is terrifying or incomprehensible, the brain often enters a state of "freeze" or dissociation. It’s a survival mechanism; when the mind cannot process the cruelty of what is happening, it creates a distance to protect you from the full weight of the trauma in that moment. Understanding the Language of Power The phrase he used is deeply revealing, though painful to revisit. It suggests that: It was about control, not intimacy: By saying he felt he was "winning," he framed the assault as a power struggle. Insecurity and Resentment: It implies that in your day-to-day life, he felt "less than" or "losing" to you. Instead of dealing with his own insecurities like an adult, he chose ...

Perjalanan Halusinasi ke Dataran Tinggi


Sudah sejak lama saya merasa harus pergi ke dataran tinggi ini. Bahkan sebelum saya bisa pegang kamera, cuma karena beberapa halaman di buku sekolah jaman SMP. Lalu ketika akhirnya akan berangkat, cuma satu kekhawatiran saya, akan sedingin apa di sana?
Maka saya sibuk mencari informasi dan bertanya sana sini. Seumur hidup tinggal di Jakarta, jujur saja saya lebih bisa mengatasi cuaca panas dibandingkan udara dingin. Semakin dekat keberangkatan, ketakutan semakin menjadi-jadi. Akhirnya, jika kamu menengok isi ransel saya dalam perjalanan ini, kamu akan menemukan: sweater, sweater, sweater, kaus kaki, kaus kaki, shawl, shawl, sarung tangan dan tiga sachet Tolak Angin cair plus madu. Iya, saya tidak salah ketik, memang segitu takutnya saya kedinginan di Dieng.

Perjalanan kurang lebih 17 jam dari Jakarta hingga homestay. Keliling sekitar penginapan, memantau area Candi Arjuna yang akan jadi lokasi Dieng Culture Festival, foto-foto, lanjut ke Kawah Sikidang, foto-foto, Menuju Dieng Plateau Theater, foto-foto, menuju Batu Pandang, nyasar malah ke Telaga Warna, foto-foto. Man, i cant get enough with taking picture, but please never make me your personal photographer, you cant handle my grumpy mood.

pabrik awan di Kawah Sikidang

Telaga Warna
 Malam dilanjutkan dengan main lampion di area Candi Arjuna dan bagi yang berminat boleh nonton Jazz Di Atas Awan. Sebelumnya semarak kembang api lumayan menerangi langit malam yang sudah dipenuhi lampion warna-warni. Saya cukup kedinginan sehingga memilih minum segelas kopi yang langsung dingin begitu diajak menyebrang jalan.
pelepasan lampion

pesta kembang api
 Kalau kamu serius mengejar matahari terbit di Bukit Sikunir, sebaiknya kamu bangun jam 2 atau paling telat jam 3 pagi. Bungkus badan kamu rapat-rapat karena udara malam akan menusuk sekali bahkan kaki saya pun nggak bisa dihangatkan walaupun sudah dibungkus dua selimut. Dari awal saya sadar pakai denim di gunung cuma akan menyiksa kaki, yet i still wear it, in fact it was my only pants for three days in Dieng. Sebelum kamu bilang saya jorok, sebaiknya kamu cuci dulu jeans yang menggantung di balik pintu kamarmu ;).

Pengejaran saya menuju puncak Sikunir jelas sudah digagalkan oleh teman-teman seperjalanan yang akhirnya baru bisa berangkat jam setengah lima. Bukannya bermaksud menyalahkan, tapi kemarin itu saya tidak dalam kondisi yang memungkinkan untuk berangkat tanpa kalian. Maka dalam perjalanan kali ini saya melepaskan segala ekspektasi. Dan hasilnya cuma foto-foto di bawah ini.

sunrise

sunrise lagi

tetep sunrise