Coffee and Contemplation - 2

  Sejak 2012, gue berulang kali mau nabung dollar. Tapi gue urungkan. Bukan karena ngga yakin dollar bakal naik. Justru karena gue yakin dollar pasti naik terhadap nilai tukar rupiah. Dan gue kepikir, kalau dollar naik, pasti berdampak pada ekonomi negara. Ekonomi orang-orang di sekitar gue. Bukan karena mereka pake dollar. Tapi karena pada skala makro, pertukaran komoditi masih menggunakan dollar. Dan mau ngga mau, melihat harga dollar yang tinggi, komoditas dalam negri pasti melirik pasar luar. Namanya juga bisnis, maunya untung. Didasari pemikiran kalau nabung dollar berasa ngga nasionalis, dan berbahagia di atas kesulitan sodara sebangsa dan setanah air, maka gue memilih invest di saham-saham plat merah. Tujuannya selain untuk investasi juga berkontribusi terhadap usaha milik bangsa. Namun lagi lagi. Ngga di mana-mana, cinta gue selalu bertepuk sebelah tangan. Relationship, karir, berwarganegara, pada akhirnya, pemikiran dan tindakan gue yang dilandaskan perhatian, kasih sayang...

Senja di Pagi Hari

Tetesan hujan sisa semalam belum lagi selesai berjatuhan. Tak disangka darimana, butiran air ikut menuruni pipi. Ia menangis.
Aku tidak yakin rasa apa yang berkecamuk dalam dadanya. Ia tersenyum, pun matanya berucap lain. Tampak padanya, hari-hari ini ia akan kehilangan arah.
Sepanjang pagi ia menanti senja. Merindukan semburat merah di langit Jakarta. Merenggut satu hari lagi dimana ia hanya merasa luka.
Aku sadar ia lemah. Segala yang ia perlihatkan hanyalah tameng baja untuk melindungi dirinya. Seperti kura-kura dengan tempurung. Membawa rumah kemana pun ia pergi, namun tidak pernah merasa punya rumah.
Kali ini ia lelah. Meski menolak untuk kalah. Hatinya terus menangis, otaknya meronta-ronta ingin bahagia. Aku khawatir akan datang harinya ia ingin lenyap.
Jangan dulu lelah, jangan dulu kalah. Karena kita tidak membutuhkan sesiapapun untuk bahagia. Cukup Dia dan jalan hidup yang dituliskanNya.
Seharusnya tidak terlupa. Rasa ini, apa gerangan artinya?

Comments