Late Night or Early Morning

The thing about grief: it doesn't end with its five phases or whatever.  It stays.  It eats you every day.  You feel it in your chest.  Your arms tremble.  Yet, you can't cry.  You are never allowed to cry.  Not anymore.  Not after an evil, ungrateful man saw your tears and exploited them. A thought in the late night or the very early morning.  You feel the pain is fresh.  You wonder why you were stabbed and left to die alone.  Your hands seek a grasp.  Nobody is around. We are always alone.  And it's fine.  We are always better off alone. Forgive yourself.  Forgive me.

Sendiri

'Tidak pernah,' ucap bapak tua berseragam putih dengan tatapan menenangkan.

'Serius tidak pernah? Masa sih ada orang yang tidak pernah berpikir untuk bunuh diri -setidaknya sekali dalam seumur hidupnya?

'Tentu saja.'

'Tidak mungkin.'

Saya kenal seseorang yang kerap terserang rasa ingin mati. Jika serangan itu datang, seperti ada susunan syaraf yang terputus. Ia menatapi urat nadinya dan membayangkan koyakan panjang membujur di lengannya.

Dadanya sesak. Airmata mulai menggenang di ujung mata. Ia tidak mau mati. Tapi rasa ingin mati tidak kunjung hilang. Ia menggapai-gapai. Namun tidak ada yang datang menolong. Suaranya tercekat, menatap gelap di hadapannya. Ia tidak tau caranya meminta tolong.

Saya tau, ia hidup seperti itu, sepanjang umurnya. Ingin mati, namun tidak ingin mati. Tidak ada yang mengerti. Begitu pun dirinya sendiri. Ia merasa kalah. Tidak ingin lagi berusaha. Semuanya percuma.

Di ujung hari, ia akan ditelan kesepian. Suaranya, tidak sampai di hati. Ia ingin pergi.
Saya pernah bertanya padanya, 'kenapa kamu tidak pergi sendiri?' Ia menjawab lirih, 'karena saya butuh alasan untuk kembali. Jika sendiri, saya akan terus pergi.' Ia tidak punya tempat untuk kembali. Kemana pun pergi, tak kan ada orang yang mengerti.

Saya mengenal satu orang seperti itu. Ia duduk bertatapan dengan saya dari dalam kaca. Sendiri.