Coffee and Contemplation - 2

  Sejak 2012, gue berulang kali mau nabung dollar. Tapi gue urungkan. Bukan karena ngga yakin dollar bakal naik. Justru karena gue yakin dollar pasti naik terhadap nilai tukar rupiah. Dan gue kepikir, kalau dollar naik, pasti berdampak pada ekonomi negara. Ekonomi orang-orang di sekitar gue. Bukan karena mereka pake dollar. Tapi karena pada skala makro, pertukaran komoditi masih menggunakan dollar. Dan mau ngga mau, melihat harga dollar yang tinggi, komoditas dalam negri pasti melirik pasar luar. Namanya juga bisnis, maunya untung. Didasari pemikiran kalau nabung dollar berasa ngga nasionalis, dan berbahagia di atas kesulitan sodara sebangsa dan setanah air, maka gue memilih invest di saham-saham plat merah. Tujuannya selain untuk investasi juga berkontribusi terhadap usaha milik bangsa. Namun lagi lagi. Ngga di mana-mana, cinta gue selalu bertepuk sebelah tangan. Relationship, karir, berwarganegara, pada akhirnya, pemikiran dan tindakan gue yang dilandaskan perhatian, kasih sayang...

Sendiri

'Tidak pernah,' ucap bapak tua berseragam putih dengan tatapan menenangkan.

'Serius tidak pernah? Masa sih ada orang yang tidak pernah berpikir untuk bunuh diri -setidaknya sekali dalam seumur hidupnya?

'Tentu saja.'

'Tidak mungkin.'

Saya kenal seseorang yang kerap terserang rasa ingin mati. Jika serangan itu datang, seperti ada susunan syaraf yang terputus. Ia menatapi urat nadinya dan membayangkan koyakan panjang membujur di lengannya.

Dadanya sesak. Airmata mulai menggenang di ujung mata. Ia tidak mau mati. Tapi rasa ingin mati tidak kunjung hilang. Ia menggapai-gapai. Namun tidak ada yang datang menolong. Suaranya tercekat, menatap gelap di hadapannya. Ia tidak tau caranya meminta tolong.

Saya tau, ia hidup seperti itu, sepanjang umurnya. Ingin mati, namun tidak ingin mati. Tidak ada yang mengerti. Begitu pun dirinya sendiri. Ia merasa kalah. Tidak ingin lagi berusaha. Semuanya percuma.

Di ujung hari, ia akan ditelan kesepian. Suaranya, tidak sampai di hati. Ia ingin pergi.
Saya pernah bertanya padanya, 'kenapa kamu tidak pergi sendiri?' Ia menjawab lirih, 'karena saya butuh alasan untuk kembali. Jika sendiri, saya akan terus pergi.' Ia tidak punya tempat untuk kembali. Kemana pun pergi, tak kan ada orang yang mengerti.

Saya mengenal satu orang seperti itu. Ia duduk bertatapan dengan saya dari dalam kaca. Sendiri.