Coffee and Contemplation - 1

  It was a pleasant evening, and I always order a Japanese iced filter whenever I spend time at this particular slow bar in Jakarta. As I sipped my 50k-something coffee, my mind began to contemplate the passage of time. Ten years ago, I only paid 18k for the same menu item, the same beans. I understand how inflation works, and I know that coffee crops depend heavily on nature to thrive. Yet, as I sat there, I realized how drastically prices have skyrocketed over the last decade—not just for coffee, but for everything. Even though my salary has increased fourfold in that time, I still feel as though my buying power has weakened. It wasn't just the price of the beans that bothered me; it was the realization that the cost of living is quietly eroding everything I’ve worked for. I won't go into the weeds of government mismanagement, but it reminded me of a scene in The Trial of the Chicago 7 , where Joseph Gordon-Levitt’s character asks Sacha Baron Cohen’s about his contempt for hi...

Dua Sagittarius, Bintang-Bintang dan Matahari

foto dari kafeastronomi.com
Ada dua Sagittarius tergeletak di pinggir dermaga di Derawan. Keduanya menatapi bintang yang jarang dilihat saat berkemul dengan penatnya Jakarta. Keduanya bercerita layaknya teman lama yang akhirnya berjumpa. Sesekali tangan salah satunya menunjuk langit. Kadang juga terdengar jeritan bersemangat keduanya yang diikuti tawa panjang. Lalu kembali berbicara serius.

Iya, keduanya bicara panjang lebar. Tentang keluarga, tentang cinta, tentang pekerjaan, tentang masa depan. Masing-masing terpekik tertahan dan mengangguk-angguk mengerti. Pernahkah kamu bertemu teman lama, namun merasa tak pernah terpisah? Seakan kalian berpikir dengan satu otak dan merasa dengan satu hati walau kenyataannya banyak perbedaan yang mendasar. Tentang bagaimana keduanya bersikap, bagaimana keduanya mengambil kesimpulan. Paradoks. Terlihat sama, walau nyata perbedaannya.

Akhirnya, pembicaraan menyinggung Tuhan. Kedua Sagittarius nampak lebih serius sekarang. Salah satu berucap lantang, "Pada akhirnya, gue merasa Tuhan tau apa yang ada di balik otak gue, hati gue. Okelah pada permukaannya gue ingin settle down, ingin membagi hidup dengan sosok lelaki yang sedang gue gilai. Namun Tuhan tau, dan selalu tau, inti tubuh gue masih belum ingin menjejakkan kaki bersama lelaki mana pun. Serpihan jiwa gue masih ingin menjadi partikel bebas. Tuhan tau itu, maka Ia membuat gue menunggu." Ocehan panjang yang diamini Sagittarius di sebelahnya. "Gue juga percaya, cara kerjanya begitu." Ujarnya menyuarakan kebulatan.

Kedua Sagittarius menikmati jatuh cinta. Pun keduanya punya cara yang berbeda. "Gue selalu mengabarkan rasa cinta gue pada orang yang gue tuju. I mean, pada hidup yang sebentar ini, untuk apa menyembunyikan rasa cinta? Terlepas dari apakah gue ingin membagi hidup bersama sosok itu. Atau apakah ia akan balas mencintai gue. Semua tidak signifikan. I love you and i will tell you that." ucap Sagittarius pertama. "Aduh gue nggak bisa gitu," Keluh yang kedua. Terang, mereka menjalani hidup yang berbeda. Pun perempuan yang jatuh cinta selalu memiliki tatapan yang sama ketika mengingat kecintaan mereka.

Bintang-bintang makin bermunculan ketika kedua Sagittarius memutuskan berpisah. Satu Sagittarius berpikir, 'Kang, kamu itu Matahari. Pun ada jutaan ribu bintang di langit luas, Bumi cuma butuh satu Matahari untuk menghangatkannya. I wish I am an Earth for you.'

Comments

  1. ahemm,, Pun perempuan yang jatuh cinta selalu memiliki tatapan yang sama ketika mengingat kecintaan mereka. >> suka ini. mata yang hidup, yang berbinar-binar, dan sepertinya ingin mengatakan sesuatu tentang sesuatu hal.

    ReplyDelete

Post a Comment