SCREAM

"Kenapa tidak berteriak?"   Pertanyaan yang selalu muncul ke permukaan dalam diskursus kekerasan seksual. Ada tuntutan tersirat tentang konsep the perfect victim,  bahwa korban yang "sah" haruslah sesosok manusia suci tanpa cela yang melawan sekuat tenaga. Jika kamu membeku karena shock dan tidak berteriak, maka di mata mereka, kamu bukan korban. "Kenapa mau ikut pergi sama terlapor?"   Pertanyaan berikutnya. Mengesankan bahwa jika korban setuju untuk bertemu atau bepergian, maka ia juga otomatis menyetujui tindakan kekerasan seksual yang terjadi. Logika usang ini menganggap kekerasan seksual tidak akan terjadi jika korban bisa menjaga diri dengan baik: tidak dekat dengan pelaku, tidak tinggal bersama pelaku, dan selalu waspada. Lagi-lagi, tuntutan menjadi a perfect victim . "Kalau sudah tahu dia begitu, kenapa tidak ditinggalkan? Kenapa masih mau berhubungan?" Bahkan aparat penegak hukum pun sering kali sulit menerima kenyataan ini. Mereka gagal...

i was, supposed to, born to make you happy

Saya punya hati yang sangat lembek. Gak bisa memaki dan gak bisa dimaki. Rasa sakit di hati karena tertoreh kata-kata rasanya nggak bisa hilang. Lalu begitu dimaki, akan membalas dengan makian yang tidak kalah pedas. Membuat hati saya makin sakit.
Adalah seorang tua yang selama lebih dari seperempat abad tidak pernah memuji saya. Selalu menemukan celah dalam kesuksesan saya. Di matanya, saya tidak pernah memuaskan. Lantas saya pun jadi tidak pernah puas akan diri sendiri. Kami tidak pernah sependapat akan apapun sejak saya bisa mengingat.
Tapi saya tidak mau menyakiti hatinya lebih jauh lagi. Dia dan perempuan yang selalu mendampinginya. Saya seharusnya maklum dengan segala pengetahuan saya tentang orang tua ini. Bagaimana ia dibesarkan, bagaimana ia membesarkan adik-adiknya. Dan sekarang anak-anaknya. Saya harusnya paham bagaimana karakternya.
Namun saya sudah terbiasa hidup untuk diri sendiri. Membagi kesenangan dan kesedihan hanya di atas kertas. Dan saya merasa tidak layak untuk dimaki, diperlakukan seperti layaknya lalat. Membuat saya merasa tidak diinginkan. Membuat saya kemudian menjauh dan menutup hubungan. Saya harusnya lebih rendah diri dan penyayang. Tapi bagaimana bisa saya menyayangi kalau saya tidak pernah disayang?
Saya mencari tempat, sebuah tempat yang bisa menjadi rumah. Sungguh saya tau, kita tidak melarikan diri dari keluarga. Karena darah lebih kental daripada air. Saya ingin kembali. Bukan karena saya lemah apalagi merindu. Lebih karena tak kuasa membayangkan wajah tua mereka berkerut sedih. Terlebih jika saya yang menjadi penyebab kesedihan dan kesakitan itu.
Sejak mulai berpikir, saya selalu berpikir bagaimana caranya untuk menyenangkan mereka. Rasanya semua tidak berhasil. Menjadi juara kelas dan olimpiade IPA tidak membuat mereka bangga. Kuliah di universitas ternama dan mendali-mendali Taekwondo tidak menarik minat mereka. Melakukan pekerjaan rumah tangga dan menyokong keuangan keluarga tidak memuaskan mereka. Saya tidak tau bagaimana membahagiakan mereka. Karena saya tidak tau bagaimana bentuk kebahagiaan itu.
Jika suatu hari saya bisa kembali, saya ingin membuat mereka tertawa dan tersenyum. Tanpa gurat sedih dan luka pada wajah mereka. Masalahnya, saya tidak punya jalan untuk kembali. Hati saya terlalu tersakiti.