Borrowed Sorrow

  Growing up, I spent most of my time alone. I spent it reading, playing pretend, writing short stories, dancing, and exploring. Of course, I had a crew: a bunch of busybody teenagers exploring the infinite possibilities of our hometown. When puberty hit, I fell in love with the idea of falling in love, but not the actual relationship part. I mostly read about romance in teen magazines and already felt exhausted by the obligations society threw at girls. Back in my day, being sad was a trend. I was there when the first emo punk bands debuted on MTV. I was there when Avril swapped her skateboard for a tutu. But personally, I was happy. So, I borrowed sorrow from pop culture instead. I picked up my brother’s beat-up guitar and learned to play the most heart-numbing songs. I was an emo girl. The quiet kind you could only discover by reading my notes or scrolling through my playlist. I am a middle-aged woman now. What was once a borrowed sorrow has become the story of my life. Those c...

Symptoms of Short Term Memories Problem


 Seorang teman kecil bertanya, 'kak shinta ngga pernah nangis yah?'. I do cried a lot actually. Saking seringnya hingga air mata tak bersisa. Seakan semua hal sekecil apapun sanggup menggores hati yang terlalu perasa. Saya pun menangis. Berlinang air mata sampai sesegukan.




Dulu ada tukang sapu FISIP UI yang bilang, 'lo gak bisa sukses di karir dan keluarga juga shin. lo harus milih salah satu.' Lalu rasanya sekarang apa yang sukses?


Minggu ini di-approach lembaga pemerintah dan agency iklan untuk project yang berbeda. Sementara masih baru mulai meraba-raba pekerjaan baru. Sungguh sangat perlu mentor dan menimba ilmu.


Rasanya kemarin sempat jatuh cinta pada fotografer muda. Rasanya ingin tau apa isi otak dan hatinya. Ingin mendekat, bercerita di tengah malam. Di antara waktu tidur dan terjaga. Rasanya, rasa itu masih tersisa penuh tanya.

Kangen. Lelaki itu. Selalu. Kenapa?



Ada sketsa ini di sela-sela korteks otak. Temaram matahari dari sela-sela dedaunan. Pukul satu siang. Semilir angin beraroma rumput. Suara kayuhan sepeda. Kenyamanan dalam kenangan. Ketika tersenyum semudah membuka mata.

Be careful with what you wish for. When the gods wish to punish us, they answer our prayers. by Oscar Wilde


Belakangan memutar satu lagu terus menerus. Suara lembut dengan alunan tenangnya menarik diri untuk sejenak beristirahat. Memutar segala yang telah terlewati. Mengamati, menanti datangnya penghujung tahun, December.

Saya mencari sebuah tempat. Tempat yang bisa disebut rumah. Somewhere i can fit in.