Borrowed Sorrow

  Growing up, I spent most of my time alone. I spent it reading, playing pretend, writing short stories, dancing, and exploring. Of course, I had a crew: a bunch of busybody teenagers exploring the infinite possibilities of our hometown. When puberty hit, I fell in love with the idea of falling in love, but not the actual relationship part. I mostly read about romance in teen magazines and already felt exhausted by the obligations society threw at girls. Back in my day, being sad was a trend. I was there when the first emo punk bands debuted on MTV. I was there when Avril swapped her skateboard for a tutu. But personally, I was happy. So, I borrowed sorrow from pop culture instead. I picked up my brother’s beat-up guitar and learned to play the most heart-numbing songs. I was an emo girl. The quiet kind you could only discover by reading my notes or scrolling through my playlist. I am a middle-aged woman now. What was once a borrowed sorrow has become the story of my life. Those c...

bizzare love triangle


Oh tidak. Saya nggak bermaksud bicara soal hubungan rumit tiga orang yang terlibat cinta. Justru yang mau kita bahas adalah tentang cinta itu sendiri. Karena cinta itu simpel.
Ini berawal saat saya bersemedi dan membaca. Lalu muncul nama psikolog Robert Stenberg dengan Love Triangle Theory-nya. Selama ini love triangle favorite saya cuma versi Frente. Pak Robert menuliskan tiga kondisi cinta: commitment, passion, intimacy.
Cinta yang dimiliki pasangan lanjut usia mungkin adalah commitment. Mereka tetap bersama walaupun gairah dan kemesraan sudah jauh berkurang. Sesederhana karena mereka sudah komit untuk berbagi kehidupan.
Cinta anak-anak muda biasanya berdasarkan pada intimacy. Rasa ingin terus berdekatan dan gelitik penasaran mengenai sex life. Maka seks pranikah selalu menjadi fenomena gunung es di setiap peradaban.
Passion. Nggak habis pembahasan tentang kata ini. Cinta yang cuma punya unsur passion mungkin seperti tergila-gila pada idola. Dan buat saya, idola nggak selalu public figure. Seperti mengidolakan lelaki yang dapat ditemui sehari-hari.
Ketiga unsur cinta ini dapat berdiri sendiri dan dapat pula berpotongan. Commitment dan intimacy menghadirkan companionate love. Seperti kalimat yang sedang saya sukai sekarang ini, 'i love you, but im not in love with you'. Teman-teman yang suka merasa bosan dengan pasangan pacarannya mungkin karena sedang kehilangan gairah terhadap orang tersebut.
Romantic love hadir ketika intimacy berpotongan dengan passion. Bisa dibilang masa bulan madu. Saat kita sanggup menelepon hingga berjam-jam, chatting sampai jam 3 pagi, nggak tahan untuk gak menyentuh atau melihat kecintaannya. Kondisi yang paling sering kita alami.
Ketika commitment berpapasan dengan passion, hadirlah fatious love. Saya lebih suka menghubungkan kecintaan macam ini pada hobi atau pekerjaan. Saya sendiri belum bertemu atau mendengar pasangan yang selalu punya passion terhadap satu sama lain.
Cinta yang sempurna, consummate love, adalah saat ketiga kepingan itu bertumpuk jadi satu. Layaknya frase: im in love with the same person everyday. Jika itu diucapkan pasangan yang telah lama berkomitmen.
Karena saat intimacy hilang, akan muncul miskomunikasi. Ketika passion memudar, akan ada cinta yang lain. Commitment yang renggang, akan memicu perpisahan. Kalau ketiganya tidak untuk selamanya, apalah yang menjadi jaminan bagi kita untuk bisa berbagi hidup selamanya dengan pasangan?
Ada fotografer flamboyan yang menyuruh saya segera menikah. Alasannya karena saya sudah memasuki paruh akhir dari usia 20an. Saya berencana menikah, tentu saja. Kelak saya menikah, saya ingin yakin bukan menikah agar tidak sendirian, bukan menikah karena ingin berhubungan seks, bukan menikah karena kegilaan sementara.
Meanwhile, saya akan tetap menikmati hidup to the fullest. Saya manusia bahagia, jadi kalau menikah nanti saya harus lebih bahagia lagi. Dan saya tidak berencana mengikat diri sebelum menikah. Kalau kamu pacaran lebih lama dari wajib belajar tapi gak kunjung nikah, maaf jika saya bilang kamu melakukan hal yang sia-sia.
Memahami ini, mungkin yang saya rasakan sekarang adalah intimacy. Untunglah saya punya tuhan, masih ada yang menahan saya agar tidak have sex before marriage.
Published with Blogger-droid v2.0.10