Coffee and Contemplation - 2

  Sejak 2012, gue berulang kali mau nabung dollar. Tapi gue urungkan. Bukan karena ngga yakin dollar bakal naik. Justru karena gue yakin dollar pasti naik terhadap nilai tukar rupiah. Dan gue kepikir, kalau dollar naik, pasti berdampak pada ekonomi negara. Ekonomi orang-orang di sekitar gue. Bukan karena mereka pake dollar. Tapi karena pada skala makro, pertukaran komoditi masih menggunakan dollar. Dan mau ngga mau, melihat harga dollar yang tinggi, komoditas dalam negri pasti melirik pasar luar. Namanya juga bisnis, maunya untung. Didasari pemikiran kalau nabung dollar berasa ngga nasionalis, dan berbahagia di atas kesulitan sodara sebangsa dan setanah air, maka gue memilih invest di saham-saham plat merah. Tujuannya selain untuk investasi juga berkontribusi terhadap usaha milik bangsa. Namun lagi lagi. Ngga di mana-mana, cinta gue selalu bertepuk sebelah tangan. Relationship, karir, berwarganegara, pada akhirnya, pemikiran dan tindakan gue yang dilandaskan perhatian, kasih sayang...

Two Ways Monologue

'Saya mau cerai' ucap perempuan akhir dua puluhan di depan saya. 'Kami memang tidak menikah karena cinta. Ah, kami memang tidak menikah. Saya cuma ingin perlindungan dan rasa aman.'
'Lalu?'
'Sebenarnya tidak perlu bercerai. Karena kami tak pernah menikah. Saya tidak punya rasa.'
'Lantas apa lagi?'
'Saya punya anak. Kami punya anak. Saya tidak mau berpisah.'
'Kamu tidak menikah, tapi punya anak. Lalu ingin berpisah. Tau kah kamu, dengan status seperti ini, kamu tidak bisa menuntut apa pun dari lelaki itu. Tak ada hitam di atas putih. Tak ada pertanggungjawaban.'
'Itu saya tau. Saya tidak ingin berpisah. Tapi saya tidak bahagia. Ia tidak bahagia. Anak kami mungkin tidak bahagia.'
'Kalau berpisah apakah kamu bahagia?'
'Keluarganya menerima anak saya. Namun saya tetap terasing.'
'Kalau berpisah apakah kamu bahagia?'
'Saya tidak akan bahagia. Dan saya juga tidak ingin ia bahagia. Saya tidak mau merawat anak kami sendiri.'
'Manusia memang egois. Lalu kebahagiaan siapa yang akan kamu bela?'
'Saya ingin bahagia. Tidak boleh kah?'
'Lepaskan apa yang membuatmu tidak bahagia. Dengan begitu baru kamu bisa bahagia.'
'Kalau saya melepaskan dia, dia akan bahagia, sementara saya tidak.'

Kami saling bertatapan. Ia tidak mencintai lelaki itu, ia hanya tidak ingin sendiri. Lalu masih ada anak. Bagaimana nasibnya kelak?

'Bagaimana nasib anak saya?'
'Kamu berhak atas anakmu. Setiap ibu yang baik berhak atas anaknya. Boleh saya bertanya, apa kamu bisa bertanggung jawab atas kehidupan anakmu? Tidak cuma material, tapi juga pendidikannya sebagai manusia.'
'Mungkin saya sanggup. Saya pikir ia tidak akan bahagia jika anaknya saya bawa.'
'Ia lelaki. Ia (bisa saja) tidak peduli.'
'Saya tidak akan bisa bertemu anak saya lagi jika saya tinggalkan bersama keluarganya.'
'Tapi apakah pikirmu itu hal terbaik untuk anak itu?'
'Mungkin saya bisa memberikan lebih baik.'

Tidak ada ibu yang mau berpisah dengan anaknya. Tidak untuk alasan apapun. Hingga seringkali lupa, anak itu juga ingin bahagia. Perempuan itu belum lagi menetapkan hatinya saat menatap ke dalam cermin dan pergi.