Borrowed Sorrow

  Growing up, I spent most of my time alone. I spent it reading, playing pretend, writing short stories, dancing, and exploring. Of course, I had a crew: a bunch of busybody teenagers exploring the infinite possibilities of our hometown. When puberty hit, I fell in love with the idea of falling in love, but not the actual relationship part. I mostly read about romance in teen magazines and already felt exhausted by the obligations society threw at girls. Back in my day, being sad was a trend. I was there when the first emo punk bands debuted on MTV. I was there when Avril swapped her skateboard for a tutu. But personally, I was happy. So, I borrowed sorrow from pop culture instead. I picked up my brother’s beat-up guitar and learned to play the most heart-numbing songs. I was an emo girl. The quiet kind you could only discover by reading my notes or scrolling through my playlist. I am a middle-aged woman now. What was once a borrowed sorrow has become the story of my life. Those c...

Two Ways Monologue

'Saya mau cerai' ucap perempuan akhir dua puluhan di depan saya. 'Kami memang tidak menikah karena cinta. Ah, kami memang tidak menikah. Saya cuma ingin perlindungan dan rasa aman.'
'Lalu?'
'Sebenarnya tidak perlu bercerai. Karena kami tak pernah menikah. Saya tidak punya rasa.'
'Lantas apa lagi?'
'Saya punya anak. Kami punya anak. Saya tidak mau berpisah.'
'Kamu tidak menikah, tapi punya anak. Lalu ingin berpisah. Tau kah kamu, dengan status seperti ini, kamu tidak bisa menuntut apa pun dari lelaki itu. Tak ada hitam di atas putih. Tak ada pertanggungjawaban.'
'Itu saya tau. Saya tidak ingin berpisah. Tapi saya tidak bahagia. Ia tidak bahagia. Anak kami mungkin tidak bahagia.'
'Kalau berpisah apakah kamu bahagia?'
'Keluarganya menerima anak saya. Namun saya tetap terasing.'
'Kalau berpisah apakah kamu bahagia?'
'Saya tidak akan bahagia. Dan saya juga tidak ingin ia bahagia. Saya tidak mau merawat anak kami sendiri.'
'Manusia memang egois. Lalu kebahagiaan siapa yang akan kamu bela?'
'Saya ingin bahagia. Tidak boleh kah?'
'Lepaskan apa yang membuatmu tidak bahagia. Dengan begitu baru kamu bisa bahagia.'
'Kalau saya melepaskan dia, dia akan bahagia, sementara saya tidak.'

Kami saling bertatapan. Ia tidak mencintai lelaki itu, ia hanya tidak ingin sendiri. Lalu masih ada anak. Bagaimana nasibnya kelak?

'Bagaimana nasib anak saya?'
'Kamu berhak atas anakmu. Setiap ibu yang baik berhak atas anaknya. Boleh saya bertanya, apa kamu bisa bertanggung jawab atas kehidupan anakmu? Tidak cuma material, tapi juga pendidikannya sebagai manusia.'
'Mungkin saya sanggup. Saya pikir ia tidak akan bahagia jika anaknya saya bawa.'
'Ia lelaki. Ia (bisa saja) tidak peduli.'
'Saya tidak akan bisa bertemu anak saya lagi jika saya tinggalkan bersama keluarganya.'
'Tapi apakah pikirmu itu hal terbaik untuk anak itu?'
'Mungkin saya bisa memberikan lebih baik.'

Tidak ada ibu yang mau berpisah dengan anaknya. Tidak untuk alasan apapun. Hingga seringkali lupa, anak itu juga ingin bahagia. Perempuan itu belum lagi menetapkan hatinya saat menatap ke dalam cermin dan pergi.