Coffee and Contemplation - 2

  Sejak 2012, gue berulang kali mau nabung dollar. Tapi gue urungkan. Bukan karena ngga yakin dollar bakal naik. Justru karena gue yakin dollar pasti naik terhadap nilai tukar rupiah. Dan gue kepikir, kalau dollar naik, pasti berdampak pada ekonomi negara. Ekonomi orang-orang di sekitar gue. Bukan karena mereka pake dollar. Tapi karena pada skala makro, pertukaran komoditi masih menggunakan dollar. Dan mau ngga mau, melihat harga dollar yang tinggi, komoditas dalam negri pasti melirik pasar luar. Namanya juga bisnis, maunya untung. Didasari pemikiran kalau nabung dollar berasa ngga nasionalis, dan berbahagia di atas kesulitan sodara sebangsa dan setanah air, maka gue memilih invest di saham-saham plat merah. Tujuannya selain untuk investasi juga berkontribusi terhadap usaha milik bangsa. Namun lagi lagi. Ngga di mana-mana, cinta gue selalu bertepuk sebelah tangan. Relationship, karir, berwarganegara, pada akhirnya, pemikiran dan tindakan gue yang dilandaskan perhatian, kasih sayang...

lluvia #3

Aku menatap takut pada layar ponselku. Seakan-akan benda kecil itu bisa meledak sewaktu-waktu. Deretan nomor yang sama berulang kali ku ketikan.

'May I call u?'

Ah, tidak. Belum dua puluh empat jam aku menuliskan akan bertahan diam. Mungkin juga hanya aku yang merasa kalau kami punya urusan yang tertunda. Urusan yang takkan pernah selesai.

'May I call u?'

Aku menatap nanar pada rintik hujan. Selalu hujan saat aku bersedih. Selalu hujan saat aku mengingatnya. Ada lubang besar menganga dalam hatiku. Rasa tidak ingin terbiasa tanpa dia.

Nekat, aku menekan tombol panggil. Sungguh, aku berharap panggilan ku akan terabaikan. Satu nada panggil. Kakiku terpaku. Dua nada panggil. Rintik hujan mulai membasahiku. Tiga nada panggil. Ada rasa perih menjalar dalam dada.

Lalu akan terdengar suaranya. Beberapa kalimat basi akan meluncur dari mulutku. Tak pernah tau harus berkata apa. Suaraku pastinya bergetar, begitupun kakiku. Aku hanya ingin mendengar suaranya. Menyuruhku menyudahi kegilaanku. Atau menyuruhku berteduh dari hujan. Atau memakiku. Atau mengasihaniku. Atau menghakimiku. Atau mengerti aku.

Apapun. Hanya suaranya. Bercampur dengan deru hujan. Hanya suaranya, memanggil namaku. Hanya suaranya.

Aku masih berdiri dalam hujan. Diseberang sana, nada panggil masih terdengar. Hujan takkan pernah menghapus lukaku.

Comments