Borrowed Sorrow

  Growing up, I spent most of my time alone. I spent it reading, playing pretend, writing short stories, dancing, and exploring. Of course, I had a crew: a bunch of busybody teenagers exploring the infinite possibilities of our hometown. When puberty hit, I fell in love with the idea of falling in love, but not the actual relationship part. I mostly read about romance in teen magazines and already felt exhausted by the obligations society threw at girls. Back in my day, being sad was a trend. I was there when the first emo punk bands debuted on MTV. I was there when Avril swapped her skateboard for a tutu. But personally, I was happy. So, I borrowed sorrow from pop culture instead. I picked up my brother’s beat-up guitar and learned to play the most heart-numbing songs. I was an emo girl. The quiet kind you could only discover by reading my notes or scrolling through my playlist. I am a middle-aged woman now. What was once a borrowed sorrow has become the story of my life. Those c...

lluvia #3

Aku menatap takut pada layar ponselku. Seakan-akan benda kecil itu bisa meledak sewaktu-waktu. Deretan nomor yang sama berulang kali ku ketikan.

'May I call u?'

Ah, tidak. Belum dua puluh empat jam aku menuliskan akan bertahan diam. Mungkin juga hanya aku yang merasa kalau kami punya urusan yang tertunda. Urusan yang takkan pernah selesai.

'May I call u?'

Aku menatap nanar pada rintik hujan. Selalu hujan saat aku bersedih. Selalu hujan saat aku mengingatnya. Ada lubang besar menganga dalam hatiku. Rasa tidak ingin terbiasa tanpa dia.

Nekat, aku menekan tombol panggil. Sungguh, aku berharap panggilan ku akan terabaikan. Satu nada panggil. Kakiku terpaku. Dua nada panggil. Rintik hujan mulai membasahiku. Tiga nada panggil. Ada rasa perih menjalar dalam dada.

Lalu akan terdengar suaranya. Beberapa kalimat basi akan meluncur dari mulutku. Tak pernah tau harus berkata apa. Suaraku pastinya bergetar, begitupun kakiku. Aku hanya ingin mendengar suaranya. Menyuruhku menyudahi kegilaanku. Atau menyuruhku berteduh dari hujan. Atau memakiku. Atau mengasihaniku. Atau menghakimiku. Atau mengerti aku.

Apapun. Hanya suaranya. Bercampur dengan deru hujan. Hanya suaranya, memanggil namaku. Hanya suaranya.

Aku masih berdiri dalam hujan. Diseberang sana, nada panggil masih terdengar. Hujan takkan pernah menghapus lukaku.

Comments