Coffee and Contemplation - 2

  Sejak 2012, gue berulang kali mau nabung dollar. Tapi gue urungkan. Bukan karena ngga yakin dollar bakal naik. Justru karena gue yakin dollar pasti naik terhadap nilai tukar rupiah. Dan gue kepikir, kalau dollar naik, pasti berdampak pada ekonomi negara. Ekonomi orang-orang di sekitar gue. Bukan karena mereka pake dollar. Tapi karena pada skala makro, pertukaran komoditi masih menggunakan dollar. Dan mau ngga mau, melihat harga dollar yang tinggi, komoditas dalam negri pasti melirik pasar luar. Namanya juga bisnis, maunya untung. Didasari pemikiran kalau nabung dollar berasa ngga nasionalis, dan berbahagia di atas kesulitan sodara sebangsa dan setanah air, maka gue memilih invest di saham-saham plat merah. Tujuannya selain untuk investasi juga berkontribusi terhadap usaha milik bangsa. Namun lagi lagi. Ngga di mana-mana, cinta gue selalu bertepuk sebelah tangan. Relationship, karir, berwarganegara, pada akhirnya, pemikiran dan tindakan gue yang dilandaskan perhatian, kasih sayang...

lluvia #1

'Wajahmu selalu tampak ingin menangis. Tak bisakah kau pahami? Baginya, keberadaanmu bukan apa-apa.' Aku menatap gusar pada gadis di hadapanku.

'Bagaimana denganmu? Kenapa masih terpaku padaku? Padahal kamu tau jelas keadaanku. Selamanya, mataku tertuju pada dia.' Jawabnya. Datar memang, namun dapat kurasakan guratan lukanya tiap kali ia berucap tentang lelaki itu.

'Dia tidak peduli padamu.' Ku teriakan kalimat itu sekali lagi padanya.

'Jangan. Jangan beritahu aku hal yang sudah jelas.' Ia menutupkan kedua tangan ke telinganya. 'Dada ku rasanya sakit. Hampir meledak.' Suaranya mencicit. Ia sedang berusaha menahan tangisannya.

'Ku mohon, lepaskan dirimu. Lihatlah kepadaku. Aku peduli padamu.' Perlahan kuturunkan kedua tangannya. Ia membiarkan aku mendekap erat tubuhnya. Datar. Hampa.

'Aku terbangun dengan namanya, aku terlelap dalam bayangnya. Entah aku yang bodoh karena mencintainya, atau kau yang bodoh karena mencintaiku. Ku mohon, jangan lepaskan aku.' Ia menangis. Setelah sekian lama menahan tiap tetesan, kali ini airmatanya langsung membasahi hatiku.

Hujan turun, membasuh luka hatinya.

Comments