SCREAM

"Kenapa tidak berteriak?"   Pertanyaan yang selalu muncul ke permukaan dalam diskursus kekerasan seksual. Ada tuntutan tersirat tentang konsep the perfect victim,  bahwa korban yang "sah" haruslah sesosok manusia suci tanpa cela yang melawan sekuat tenaga. Jika kamu membeku karena shock dan tidak berteriak, maka di mata mereka, kamu bukan korban. "Kenapa mau ikut pergi sama terlapor?"   Pertanyaan berikutnya. Mengesankan bahwa jika korban setuju untuk bertemu atau bepergian, maka ia juga otomatis menyetujui tindakan kekerasan seksual yang terjadi. Logika usang ini menganggap kekerasan seksual tidak akan terjadi jika korban bisa menjaga diri dengan baik: tidak dekat dengan pelaku, tidak tinggal bersama pelaku, dan selalu waspada. Lagi-lagi, tuntutan menjadi a perfect victim . "Kalau sudah tahu dia begitu, kenapa tidak ditinggalkan? Kenapa masih mau berhubungan?" Bahkan aparat penegak hukum pun sering kali sulit menerima kenyataan ini. Mereka gagal...

Tuhan tau, tapi menunggu.

Pertengahan Desember lalu, gue bingung antara mau beli camera pocket, kamera instan, atau sekalian DSLR. Semua punya kelebihannya masing-masing. Sementara budget terbatas.

Akhirnya, gue beli DSLR. Padahal, udah dua tahun kepengen kamera instan. Klo camera pocket, yah cuma karena lebih praktis aja sih. Pilihannya lebih antara kamera instan, atau DSLR.

Pas udah beli DSLR, keinginan untuk punya kamera instan nggak kunjung hilang. Tapikan yah, gue kudu qanaah. Merasa cukup dengan apa yang ada.
Tapi Tuhan punya rencana lain. Selang sebulan gue beli DSLR, gue dapet kamera instan. Free of charge.

Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi kah yang kamu dustakan?

Comments