Coffee and Kisses


Gelas kopi pertama kami terasa manis. Ekstrasi Dewi Rengganis yang melewati kertas filter tersaji apik dalam gelas kaleng. Rasa saya tergelitik, lelaki ini tampak nyaman untuk diandalkan. Namun tidak terlintas keinginan untuk menghabiskan waktu dengannya lebih lama. Saya, selalu memilih sendiri.

Pertemuan-pertemuan kami berikutnya tidak menyisakan memori. Saya terlalu sibuk menggeluti dunia hingga lelah. Lalu dia ada di sana. Di tiap malam-malam larut. Di tiap pagi-pagi buta. Bercengkrama dalam kata. Tertawa. Membagi rasa. Walau saya hanya pura-pura. Saya membutuhkannya, saya memanfaatkannya. Lantas kenapa? Toh ia pun memanfaatkan keberadaan saya. Ia membutuhkan teman bicara. Dan saya selalu adalah pilihan yang tepat bagi siapa pun untuk bercerita.

Ciuman pertama kami menggelitik kelelakiannya. Entah kapan ia menyimpan rasa. Ia tak pernah mau mengakuinya. Namun ia jatuh cinta. Berkali-kali saya mencegahnya, namun ia tetap jatuh cinta. Bagaimana bisa? Saya tak akan pernah tahu jawabannya.

Lantas kami bersama. Menjelajahi waktu, mengukur jarak, meneguk gelas-gelas kopi yang sama. Saat kesukaan saya adalah setiap kali ia ada. Berkali-kali ia berkata cinta. Berkali-kali saya tidak percaya. Karena cinta bukanlah sesuatu yang indah buat saya. Cinta selalu berakhir dengan rasa pilu di hati. Maka saya melarangnya menyimpan rasa. Walau ia tak kuasa melakukannya.

Ia selalu ada. Sejak mata saya membuka hingga ketika pelupuk menahan kantuk. Ia selalu bilang cinta. Sejak ia mengakhiri malam hingga kala matahari terbenam. Kami selalu bersama. Hanya kami, gelas-gelas kopi, dan kecupan yang ia curi-curi di setiap kesempatan. Saya hampir ingin kami untuk selamanya. Pun itu semua berarti meniadakan logika.


Ia ingin saya sepanjang yang ia bisa. Selama saya ada. Jika bisa untuk selamanya. Suaranya meracuni otak saya. Walau tak terasa ungkapan cinta yang selalu ia bicarakan. Gelas-gelas kopi mulai dingin. Pembicaraan mulai habis. Namun saya selalu ingin bersamanya. Tanpa rasa. Ia tidak peduli. Karena ia jatuh cinta.

Dicintai, tak pernah membuat saya bahagia. Karena cinta selalu berubah mengikuti si pemilik hati. Dan cinta tidak pernah milik saya. Maka saat ia berulang kali bilang cinta. Saya merasa gerah. Ingin lari. Ingin menghilang. Saya menginginkannya. Tanpa rasa.

Dan ia selalu ada. Selalu hangat. Selalu bilang cinta. Saya ingin memilikinya selamanya. Tanpa rasa. Tanpa cinta. Hanya ingin ia ada. Hangat dan penuh cinta.


Saat seseorang jatuh cinta, itu selalu antara ia dan otaknya. Bukan objek yang dicinta. Bukan saya. Ia mencinta saya karena reaksi kimia di otaknya membentuk hal itu. Tak ada hubungannya dengan saya. Saya bisa saja ular paling berbisa dan ia akan tetap mencintai saya. Saya bisa saja Dewi paling mulia dan ia akan tetap mencintai saya. Karena cintanya, tidak ada sangkut pautnya dengan saya. Walau masih saya bertanya. Bagaimana bisa? Mengapa saya?

Kami menatapi senja dan menyambut pagi bersama. Kami terhubung walau terpisahkan puluhan kilometer. Ia mencintai saya melebihi waktunya. Selalu menyimpan saya dalam hati dan otaknya. Saya hanya tinggal menikmatinya. Karena ia menyukai saya berada di dekatnya. Diam-diam saya selalu bertanya. Kapan cintanya akan musnah?


Ia bukan segalanya. Dan kami tidak untuk selamanya. Ia mengira saya tau semua. Namun saya baru saja tau ketika ia berkata. Lantas. Saya ingin membunuh cintanya. Sesapan kopi terasa getir seperti kecupannya yang terakhir. Lalu ini akan seperti semua cerita yang sudah-sudah. Ketika banyak lelaki berkata cinta. Namun malah menoreh luka.

Saya masih menginginkannya. Tapi buat apa? Sekarang atau nanti kami akan berpisah. Cinta atau tidak cinta, saya akan terluka. Apa bedanya terluka nanti atau sekarang. Toh saat langit sudah terang, saat gelas-gelas kopi kembali terisi, ia akan tersenyum lagi.

Senyum yang menghilang dari bibir saya. Sayonara.