An Old Friend of Mine

Tepat jam 4 sore tadi, saya sedikit memaksa kaki menuju Gramedia. Bedrest selama 4 hari tanpa bahan bacaan rasanya lebih bosan daripada putus cinta. Ternyata, pada waktu itu, saya bertemu kawan lama. Dan dia bukan kawan yang menyenangkan.

Gramedia Grand Indonesia itu sanctuary saya. Saya sering berlama-lama di sana sampai diusir karena mau tutup. Setelah pindah kerja jauh dari Thamrin, ini kali pertama saya sowan lagi. Dulunya tiap kali depression attack, saya langsung mengubur diri di sini bersama komik-komik gratis.

Namanya serangan, datangnya selalu tiba-tiba. Untung saya sudah paham. Kalau dulu, saya malah terpuruk semakin dalam tiap kali ada serangan. Hal-hal seperti saya nggak akan pernah bahagia. Diperparah dengan pikiran tidak menyenangkan tentang pekerjaan, masa depan dan cinta. Membuat saya semakin depresi.

Belakangan sudah tidak separah itu lagi. Dengan sadar saya menginformasikan otak dan hati kalau ini adalah fase dari kondisi saya. Kalau ini hanyalah sementara. Kalau ini tidak ada hubungannya dengan karir saya yang menyenangkan maupun kisah cinta saya yang memilukan. Ini akan berlalu dan saya akan baik-baik saja seperti sebelumnya.

Pengetahuan ini tentu penting. Tapi bukan jaminan saya lantas langsung pulih. Bahkan saat saya menulis ini dada saya masih terasa penuh dan dorongan untuk menangis terasa kuat sekali. Juga dorongan untuk melukai diri dan melakukan kekerasan pada orang lain. Yang belum bisa saya tahan adalah dorongan untuk memaki, berkata kasar dan ledakan amarah.

Di Gramedia saya membeli sebuah buku dan membaca banyak komik. Kondisi psikis saya belum membaik. Lantas saya pulang, dengan mata berkaca-kaca dan kepala berat. Percuma membaca banyak komik pun, bahkan Miko tidak dengan instan memutar balikkan mood saya. Saya cuma ingin bergelung di dalam selimut bersama bantal-bantal lembut.

Begitu pulang, saya menatap pantulan diri di cermin. Awalnya hanya ingin memeriksa kaki. Pun kelebatan airmata di balik lensa masih terlihat. Seperti biasa, saya membiarkannya mengalir saja. Tak ada gunanya ditahan dan tidak dalam jangkauan penglihatan orang lain. Saya tidak sedih. Saya depresi. Kenapa? Padahal hidup saya walau tanpa sensasi cinta adalah kehidupan yang layak.

Gejala berikutnya adalah saya menolak makan. Berbicarapun enggan. Dalam kondisi demikian ada beberapa teman yang mendadak curhat masalah cinta dan pekerjaan. Kalau mengikuti dorongan saya akan mengetik i cant give a fucking fuck about your fucking life right now. Im struggling with myself so she doesnt hurt herself. Instead, saya mendengarkan dan memberi masukan. Tuhan, kalau memang hidup saya penuh dosa, tolong hitung yang tadi itu sebagai pahala.

Bukannya sekali dua kali saya ingin bilang pada beberapa teman tentang kondisi saya. Selalu urung. Nobody care. Nobody fucking care. Karena cuma bisa mengandalkan diri sendiri, saya menulis ini sebagai pengingat serangan dikemudian hari.

Hey, Shin, keep holding on. And spell Patronus charm. Things about depression, it's like muggle experiences with dementor, you can only feel it. And hope you re not soul-less when the time end. Learn to endure it. I love you, please dont hurt yourself.

Comments