Menerjang Gelombang Menuju Derawan



Oke, ini jam setengah tiga pagi, gue masih punya peer but decided to write about crazy impulsive trip to Derawan. Singkat cerita, gue pergi bersama segerombolan teman SMA menuju pulau di ujung Kalimantan Timur. Ini sedikit aneh, karena tepat hampir sebulan lalu, gue berkenalan dengan teman yang kerja selama 10 tahun di Kalimantan dalam perjalanan pulangnya menuju Purwokerto. Ketika kami berpisah, dia meletakkan gelang oleh-oleh dari Kalimantan disertai undangan, ayo jelajahi tanah Borneo. Sebulan kemudian, di tahun yang baru, gue menjejakkan kedua kaki di sisi lain kepulauan Indonesia.

Ini pertanyaan yang gue dapat begitu teman-teman mendengar kabar gue mau ke Derawan di bulan Januari, ujan-ujan, ngapain sih ke pantai? Iya, gue juga gak tau ngapain gue ke Derawan. Gue cuma yakin kalau nggak sekarang, gue nggak akan pernah menjajal tanah dan air di Derawan. Berbekal tiket LionAir pp CGK-Tarakan-CGK 1,3 juta rupiah dan travel wisatakita 1,345 ribu rupiah, gue berangkat ke Derawan dengan membawa cash hanya 200 ribu saja. Bayangkan saja, Januari kemarin gue hidup di bawah garis kewajaran.

Inget trip gue ke Kiluan dengan perjalanan yang menyiksa badan? Nah, perjalanan dari Tarakan ke Derawan ini nggak cuma menyiksa badan, tapi juga otak. Kesalahan ada di gue dan teman-teman yang memutuskan menjelajah Derawan ketika musim penghujan. Jarak Tarakan-Derawan normalnya ditempuh selama satu setengah jam perjalanan menggunakan speed boat. Tapi kami melintasinya dengan waktu dobel, tiga jam terombang-ambing di tengah lautan tanpa tepian. Teman-teman yang awalnya ceria dan penuh canda, perlahan-lahan kehabisan energi. Gue sendiri yang belum tidur sejak hari sebelumnya, memilih tergeletak di lantai speed boat dan total tidur pulas!




Begitu sampai di Derawan, jadwal acara gue sama dengan kelompok tur lainnya. Pokoknya, weekend ini anak api puas-puasin ngadem di air deh. Segala acara banana boat, snorkeling, foto bareng ubur-ubur alien dari Kakaban dan ngejar ikan warna-warni di Maratua, semua udah gue lakoni. Namun terasa ada yang kurang. Apa karena mendung yang terus menggantung? Atau karena ekspektasi luar biasa akan kenikmatan mata begitu mendengar nama Derawan?





Apa pun itu, sebaiknya teman-teman tidak mengunjungi Derawan di musim penghujan.