End of Manic Episodes

Siang tadi dia takut hidup. Takut segalanya. Dia mulai menangis entah karena apa. Aku terpukul melihatnya. Bukannya baru sekali dia begini, aku pun sudah berjaga-jaga jika kebahagiaannya usai. Aku harus berada di sampingnya. Meneguhkan kewarasannya, Menguatkan hatinya, berkata: ini hanya sementara, kamu akan tetap hidup dan bahagia.

Datangnya mendadak. Ketika suapan ketiga chocolate devil menghilang dalam mulut kecilnya, bersamaan sebuah email masuk di android miliknya. Dia meletakkan sendok dan cemberut. Aku tidak waspada, mengira email tadilah yang merusak nafsu makannya. Namun dia terus sakit dan menahan tangis. Aku mulai bertanya-tanya, setelah kegilaan sementara itu, inikah saatnya bergumul kembali ke dalam kelam?

Dia bergegas menuju sanctuary, menghubungi beberapa teman yang bisa dipercaya. Dia yakin kegilaannya sudah berakhir dan sekarang akan memasuki dunia kelam. Dia merasa tidak berarti. Berpikiran lebih baik mati. Hari esok tampak menyeramkan untuknya. Dan pekerjaan bukan lagi passion-nya. Aku berteriak mengingatkan. Ini hanya sementara, kamu akan tetap hidup dan bahagia.

Namun dia mulai menangis. Hatinya merasa sakit seperti yang sudah-sudah, lebih dari itu, otaknya tersiksa. Dia ingin ini dihentikan. Dia tidak berani hidup lagi. Rasanya seperti Dementor datang menghisap kebahagiaannya. Dia tau ini hanya sementara, aku tau dia takut menjalaninya. Hatinya sakit, rasa sesak ini, kapan akan pergi? Dia menderita, iya, itu terlihat jelas. Tapi aku tidak punya obatnya.

Biasanya, dia akan menyambut kekelaman itu dengan tangan terbuka. Kali ini tidak, aku yakin karena dia sangat menikmati kegilaan sementaranya di hari lalu. Maka dia tidak bersiap kembali menjadi kelam. Maka dia menangis entah karena apa. Aku harusnya tau, aku merasakan ini akan datang dalam waktu dekat. Aku pun tidak bersiap, sadar ikut menikmati kegilaannya kemarin sore.

Sekali lagi aku berucap, ini hanya sementara. Kamu akan tetap hidup dan bahagia. Semoga.