Days in Jogja - Menuju Ullen Sentalu


Tujuan terakhir gue di Jogja, Museum Ullen Sentalu. Sehabis bermalam di tempat dv, berpisah di Kenthungan tempat gue nunggu elf menuju Kaliurang Atas. Perjalanan gue menuju Ullen Sentalu cukup melelahkan dan dibumbui drama. Hahaha, ini karena dv sendiri sebagai penduduk lokal belum pernah ke Ullen Sentalu. Dan dv nggak sendirian, kalau lo bertanya-tanya pada orang asli Jogja bagaimana caranya ke Ullen Sentalu, lo akan mendapatkan pertanyaan sebagai jawabannya: Ullen Sentalu itu apa?

Kalau kebetulan kalian berminat ke Ullen Sentalu dan berada dalam rombongan besar, itu salah satu keuntungan buat kalian. Cukup sewa mobil dari Malioboro dan cus, ke Kaliurang Atas. Atau kalau mau ngangkot, dari halte TransJogja mana aja naik trayek 3A, turun di halte Kenthungan. Dari sini jalan sedikit ke arah utara. Bakal ada elf jelek yang mengangkut penumpang sampai ke Pakem.

Jalur elf ini emang Jogja-Kaliurang, tapi kalau penumpang sedikit, apalagi cuma satu, mereka berhenti di Pakem dan puter balik. Kalau kebetulan penumpang banyak dan pada mau ke atas, satu penumpang bakal dikenakan tarif Rp 15.000. Sumpah ini nggak mahal. Karena lo bakal di antar samapi ke depan gerbang Taman Wisata Kaliurang, yang di dalamnya terdapat jalur menuju Ullen Sentalu dan Menara Pandang Merapi.

Berhubung gue cuma sendiri, dari Pakem gue naik ojek menuju Ullen Sentalu. Kalau tukang ojek lo bingung Ullen Sentalu itu apa dan dimana, mungkin lo bisa mengeluarkan kata ajaib ini: adanya di (m)Boyong, Pak. Terus tukang ojek bakal paham dan mengantarkan lo menuju lokasi. Emang bener, penduduk sekitar justru kurang tau mengenai museum satu ini. Terbukti pula sepanjang perjalanan ke Ullen Sentalu, Jalan Kaliurang dibikin macet sama mobil-mobil berplat B. Jakarta oh Jakarta, budaya macet dibawa ke mana-mana.




Sampai ke Ullen Sentalu, gue beli tiket seharga Rp 30.000 dan duduk-duduk ngobrol bareng bapak-bapak dari Surabaya. Lagi-lagi mereka menyatakan keheranannya bagaimana bisa gue seorang diri sampai ke Ullen Sentalu. Gue bilang ini bukan pertama kalinya gue trip sendiri, dan malah membuat mereka tambah heran. Setelah ngobrol lumayan banyak dan gue akhirnya mengatakan profesi gue, mereka mengangguk-ngangguk. 'Kalau pers emang biasanya berani pergi-pergi eksplor yaah,' simpul bapak yang paling ramah.

Jujur gue nggak terlalu menikmati tur gue di dalam Ullen Sentalu. Gue nggak merasa debaran dan rasa hangat seperti biasanya saat masuk museum. Sebagian besar cerita soal perpecahan dalam keluarga kerajaan yang menyebabkan Yogyakarta dan Surakarta (Solo) berpisah, udah gue baca dibuku. Begitupun cerita tentang masa-masa Bung Karno memerintah NKRI dengan Jogja sebagai ibu kota sementara.

Koleksi lain yang berada dalam Ullen Sentalu tidak menarik minat gue. Bisa jadi karena kebanyakan adalah koleksi orang-orang Keraton, sementara gue adalah kaum proletar yang sampai kapan pun tidak bisa menerima gaya hidup orang ningrat. Lukisan-lukisan tiga dimensi yang menggambarkan keluarga Keraton emang bagus luar biasa. Saking bagusnya, gue penasaran siapa yang melukis? Dan pertanyaan ini tidak mendapatkan jawabannya.

Mengenai dilarang mengambil foto, gue mengartikannya sebagai: dilarang mengambil foto koleksi karena cahaya pada flash akan merusak kualitas warna pada lukisan dan kain. Jadi, sebagai bentuk penghargaan, gue pun tidak mengambil foto satu pun yang mengekspose koleksi-koleksi tadi. Lukisannya luar biasa indah. Pemaduan warna, goresannya dan ekspresi orang yang dilukis tergambarkan dengan detil. Bahkan gue yang minus jiwa seni aja bisa mengapresiasikannya.