Symptoms of Short Term Memories Problem


 Seorang teman kecil bertanya, 'kak shinta ngga pernah nangis yah?'. I do cried a lot actually. Saking seringnya hingga air mata tak bersisa. Seakan semua hal sekecil apapun sanggup menggores hati yang terlalu perasa. Saya pun menangis. Berlinang air mata sampai sesegukan.




Dulu ada tukang sapu FISIP UI yang bilang, 'lo gak bisa sukses di karir dan keluarga juga shin. lo harus milih salah satu.' Lalu rasanya sekarang apa yang sukses?


Minggu ini di-approach lembaga pemerintah dan agency iklan untuk project yang berbeda. Sementara masih baru mulai meraba-raba pekerjaan baru. Sungguh sangat perlu mentor dan menimba ilmu.


Rasanya kemarin sempat jatuh cinta pada fotografer muda. Rasanya ingin tau apa isi otak dan hatinya. Ingin mendekat, bercerita di tengah malam. Di antara waktu tidur dan terjaga. Rasanya, rasa itu masih tersisa penuh tanya.

Kangen. Lelaki itu. Selalu. Kenapa?



Ada sketsa ini di sela-sela korteks otak. Temaram matahari dari sela-sela dedaunan. Pukul satu siang. Semilir angin beraroma rumput. Suara kayuhan sepeda. Kenyamanan dalam kenangan. Ketika tersenyum semudah membuka mata.

Be careful with what you wish for. When the gods wish to punish us, they answer our prayers. by Oscar Wilde


Belakangan memutar satu lagu terus menerus. Suara lembut dengan alunan tenangnya menarik diri untuk sejenak beristirahat. Memutar segala yang telah terlewati. Mengamati, menanti datangnya penghujung tahun, December.

Saya mencari sebuah tempat. Tempat yang bisa disebut rumah. Somewhere i can fit in.