lluvia #1

'Wajahmu selalu tampak ingin menangis. Tak bisakah kau pahami? Baginya, keberadaanmu bukan apa-apa.' Aku menatap gusar pada gadis di hadapanku.

'Bagaimana denganmu? Kenapa masih terpaku padaku? Padahal kamu tau jelas keadaanku. Selamanya, mataku tertuju pada dia.' Jawabnya. Datar memang, namun dapat kurasakan guratan lukanya tiap kali ia berucap tentang lelaki itu.

'Dia tidak peduli padamu.' Ku teriakan kalimat itu sekali lagi padanya.

'Jangan. Jangan beritahu aku hal yang sudah jelas.' Ia menutupkan kedua tangan ke telinganya. 'Dada ku rasanya sakit. Hampir meledak.' Suaranya mencicit. Ia sedang berusaha menahan tangisannya.

'Ku mohon, lepaskan dirimu. Lihatlah kepadaku. Aku peduli padamu.' Perlahan kuturunkan kedua tangannya. Ia membiarkan aku mendekap erat tubuhnya. Datar. Hampa.

'Aku terbangun dengan namanya, aku terlelap dalam bayangnya. Entah aku yang bodoh karena mencintainya, atau kau yang bodoh karena mencintaiku. Ku mohon, jangan lepaskan aku.' Ia menangis. Setelah sekian lama menahan tiap tetesan, kali ini airmatanya langsung membasahi hatiku.

Hujan turun, membasuh luka hatinya.

Comments